Penekun Lontar, Gusti Bagus Mangku Dalang Sudiasta mengatakan, bagian dari stiti atau pemeliharaan terlihat dalam konsep Kanda Pat Catur Sanak ketika sang bayi masih dalam kandungan sang ibu.
Setiap diri manusia mempunyai saudara empat yang menjaganya ketika masih berupa janin di dalam perut ibunya. Keempat saudara inilah yang melindunginya, yakni yeh nyom atau air ketuban, getih atau rah (darah), ari-ari, lamas atau bungkus lemak pada kulit.
Stiti selanjutnya dilihat dari ritual manusa yadnya ini, bertujuan untuk membersihkan dan menyucikan manusia secara lahir dan batin. Upacara manusa yadnya dilakukan mulai dari manusia masih dalam kandungan sampai akhir hidupnya
Dalam Lontar Anggastya Prana disebutkan terdapat beberapa upacara manusa yadnya sebagai upaya dalam pemeliharaan manusia. Mulai dari ketika bayi masih berada dalam kandungan sampai ketika bayi tersebut sudah lahir ke dunia ini.
Upaya pemeliharaan manusia dengan melaksanakan upacara manusa yadnya yang diterangkan dalam Lontar Anggastya Prana.
Upacara diawali dengan ritual perkawinan agar nantinya hasil dari pertemuan alaki rabi tersebut menjadi baik. Upacara manusa yadnya yang dimaksud adalah upacara ngidam, upacara panglukatan bobotan, upacara mategesin, upacara kepus puser, upacara nelu bulanin dan upacara ngotonin.
Kemudian untuk konsep peleburan bhuana alit dalam Lontar Anggastya Prana dipaparkan melalui pendekatan aksara, yakni dengan pengenalan aksara-aksara yang terdapat dalam tubuh manusia itu sendiri.
Dengan mengenal aksara-aksara suci ini, mampu membangkitkan dan meningkatkan kesucian diri secara rohani, sehingga mampu mencapai tujuan hidup dan mencapai kelepasan (moksa).
Aksara suci yang dimaksud adalah Dasaksara (sepuluh aksara suci), yaitu SA (jantung), BA (hati), TA (ginjal), A (nyali), I (pengantungan hati), NA (paru-paru), MA (usus besar), SI (limpa), WA (kulit kepala), YA (pengantungan papusuh/jantung).
Di sisi lain, ajaran usada yang terdapat dalam Lontar Anggastya Prana tidak begitu banyak dijelaskan.
“Hanya beberapa jenis usada saja, seperti usada untuk penyakit tiwang (sakit ngilu atau kejang), terkena upas (racun), pamali (sakit seperti ditusuk-tusuk), pamalik sumpah, pamatuh dan gringsing wayang,” tutupnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya