Ida Pandita Mpu Nabe Dwija Witaraga Sanyasa dari Griya Taman Sari Asrama, Desa Kekeran, Kecamatan Busungbiu, Buleleng mengatakan, penggunaan Sirowista tidak bisa dilepaskan dari berbagai macam ritual samskara atau penyucian. Termasuk kerap digunakan sebagai sarana pemujaan oleh para pandita (sulinggih).
Sirowista merupakan kata yang terbentuk dari kata sirah yang berarti kepala, mahkota, bagian puncak. Sedangkan wista artinya pengendalian untuk mencapai kemanunggalan dengan yang dipujanya.
Sirowista merupakan perangkat penting dalam upacara berupa rangkaian beberapa rumput alang-alang (ambengan/kusa) yang diikatkan secara khusus dan disematkan bunga kembang sepatu. Simbolis Sirowista memiliki peran dan fungsi sebagai alat pencuci dan pemusnah semua mala atau penderitaan.
Pemasangan atau penggunaan Sirowista yang diikatkan di kepala mengandung makna yang religius. “Dalam setiap upacara yang bertujuan menyucikan, rumput alang-alang selalu dipakai, dipilih, diikat ataupun tidak,” jelasnya.
Rumput alang-alang ini mempunyai tanda dan berpengaruh untuk kesucian, senjata alam gaib untuk memusnahkan segala papa. Sirowista terdiri atas tiga daun alang-alang yang merupakan simbol Brahma, Wisnu, dan Iswara.
Pada bagian atas terdapat simpul bulat (bundar) sebagai simbol akasa dan pada ujung daun alang-alang sangat tajam simbol nadha, bermakna untuk meruwat segala leteh (kekotoran) agar menjadi suci, mulia dan agung.
“Maksud penggunaan Sirowista dalam upacara agama bersimbolkan sebagai destar untuk lambang kesucian, agar dapat ditahtai oleh Sang Hyang Parama Siwa,” paparnya.
Pemasangan Sirowista pada perangkat pemujaan Siwopakarana seperti pada siwambha bermakna agar air suci itu dapat diterima oleh siwatma yang bersifat suci.
“Simbolis Sirowista sebagai alat pencuci dan pemusnah (pamarisudha) semua mala (penderitaan)” imbuhnya.
Dalam Wedaparikrama VII, mantra pemakaian Sirowista pada siwambha sebagai berikut; Sirowista maha diwyam, pawitram papa nasanam; Nityam kusagram tisthati, Sidhantam pratigrhnati.
Jika diartikan, Sirowista, amat suci menyucikan dan menghancurkan semua penderitaan. Ujung rumput alang-alang adalah tetap, membantu yang duduk di luar hati.
Lebih lanjut dijelaskan, Sirowista adalah alat pembantu dalam upacara, berupa rumput alang-alang. Pada alang-alang itu diikatkan bunga kembang sepatu. Dalam setiap upacara yang bertujuan menyucikan, rumput alang-alang selalu dipakai, dipilin, diikat ataupun tidak.
Sirowista mempunyai peranan dan pengaruh untuk kesucian, senjata alam gaib untuk memusnahkan segala penderitaan atau roh-roh jahat. Ujungnya yang tajam bermakna sebagai simbol pedang lambang kekekalan dan keabadian. Kekuatan gaib yang ada dalam sebuah Sirowista berbahan alang-alang sangat besar dan menjadikan perangkat pemujaan yang diberikan ikatan sebuah Sirowista akan terhindar dari hal-hal tidak baik selama pemujaan berlangsung.
“Di dalam Sirowista itu ditempatkan kalpika yang dibuat dari kembang sepatu/bunga pucuk merupakan simbol windu yang melambangkan Hyang Widhi sebagai kemanunggalannya dengan Sirowista (karawista)” sebutnya. Editor : I Komang Gede Doktrinaya