Untuk mencegah datangnya hama walang sangit, teks Usada Carik menyebutkan sarana semangkuk garam, dengan mantra : Ih padang mandadi balang, mulih kitta ri pada, haywa kitta mangan pari ningsun, mulih kita maring padang, mbet mati, 3, poma, 3.
Terjemahannya : Wahai rumput ilalang yang menjelma menjadi belalang, kembalilah engkau ke dunia mu, janganlah engkau memakan padi ku, kembalilah engkau menjadi padang rumput, dan meniadalah (mbet mati diucapkan 3 kali), perhatikanlah baik-baik (poma diucapkan 3 kali).
Dikatakan Ketua Aliansi Peduli Bahasa Bali Nyoman Suka Ardiyasa, salah satu sarana yang digunakan untuk mencegah dampak buruk dari walang sangit adalah garam. Dimana, garam tersebut dihamburkan keliling sawah sebanyak tiga kali. Garam dipercaya tidak disenangi dan mampu mencegah datangnya walang sangit.
Kemudian, jika padi sampai dimakan walang sangit gunakan sarana, seperti air yang jatuh dari atap (hujan) bertempatkan priuk tanah, tiga helai pucuk daun dapdap, diikat dengan benang tiga warna, secakup sabut kelapa yang diisi abu tabunan.
Semua sarana tersebut kemudian disebarkan sekeliling sawah untuk mencegah datangnya walang sangit. Mantranya adalah : Mamuncrat mutering bhumi, mah ratna mutering jagat, I waraini, sarining bhoma, siratakna ider kiwa, ping 3, siddhi maṇdhi mantranku.
Artinya : Tersirat di sekeliling dunia, bagaikan ratna permata yang berhamburan mengelilingi dunia, I Waraini, sebagai sari-sari Bhoma, percikkanlah memutar ke arah kiri, ampuhlah mantraku.
Sarana-sarana yang disebutkan tadi dipercikkan mengelilingi sawah sebanyak tiga kali. Prosesi tersebut diperuntukkan kepada I Waraini yang dianggap sebagai sari-sari kesuburan yang dipercaya memberikan kesuburan bagi tumbuhan padi.
Dalam mantra itu tersirat harapan dimana mah ratna mutering jagat ratna permata berhamburan memenuhi dunia adalah padi yang bertebaran memenuhi sawah.
Ratna dapat diibaratkan benih-benih padi yang bercahaya disinari oleh matahari. “Dengan penuhnya sawah akan biji-biji padi tersebut niscaya petani akan mendapatkan hasil padi yang melimpah, tentunya dengan kesuburan yang tetap dipelihara dan hama yang berhasil dihindari,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya