Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Simak Ini, Canang Sari Bisa sebagai Pengganti Banten Pajati

I Komang Gede Doktrinaya • Selasa, 26 Juli 2022 | 02:05 WIB
PENYULUH : Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung I Gusti Agung Istri Purwati dan Canang Sari. I Putu Mardika/Bali Express/Ist
PENYULUH : Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung I Gusti Agung Istri Purwati dan Canang Sari. I Putu Mardika/Bali Express/Ist
BULELENG, BALI EXPRESS - Canang Genten digunakan untuk melengkapi bebantenan. Setiap banten tidak akan sempurna tanpa adanya Canang Genten. Sebesar apapun banten, jika tidak dilengkapi Canang Genten, maka tidak akan sempurna. Ini sebagai simbol pangurip banten. Di sisi lain, Canang Genten juga bisa diubah menjadi Canang Sari. Bagaimana caranya?

Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung I Gusti Agung Istri Purwati
menegaskan, ketika mengubah Canang Genten menjadi Canang Sari, maka unsur Panca Maha Bhuta harus ada, yaitu unsur air, api, pertiwi, angin, dan akasa.

“Kalau Canang Sari ciptaan dari Sang Kul Putih, beliau menciptakan bentuk lingga yoni yang sumbernya dari bunga dan daun,” paparnya.

Pada Canang Sari wajib ada urasari membentuk lingkaran. Di dalam urasari terdapat garis silang yang menyerupai tapak dara atau bentuk sederhana dari swastika. Urasari yang disusun dengan jejaritan akan membentuk lingkaran padma astadala yang merupakan lambang stana Tuhan dengan delapan penjuru mata anginnya.

Selanjutnya segi empat pada Canang Sari diartikan sebagai simbol Brahma Baga, dan ketika urasari digabung, maka ada segi delapan sehingga disebut Wisnu Baga.

“Lingkaran adalah simbol yoni, ketika ditambahkan bunga yang ditata. Seperti putih, merah, kuning, ungu dan pandan arum. Ini simbol lingga yoni dan pertemuan lingga yoni menghasilkan unsur Panca Maha Bhuta,” paparnya.

Pisang simbol pertiwi, tebu simbol air, kekiping atau jajan simbol angin, boreh miik simbol api dan beras simbol akasa. Inilah yang tercipta dari pertemuan lingga yoni. Kalau tidak ada unsur di bawahnya, maka tidak disebut dengan Canang Sari.

Jika ingin membuat lingga yoni yang lebih besar, maka bisa digunakan sarana banten pajati. Secara filosofi banten pajati simbol dari pertemuan lingga yoni yang menghasilkan daksina atau isi dunia. “Jadi, Canang Sari dapat dijadikan sebagai pengganti pajati,” paparnya.

Menurutnya, apabila umat Hindu saat merayakan hari otonan dan tidak mampu buat pajati, maka sarana untuk persembahyangan otonan bisa diganti dengan Canang Sari. Hal ini tentu sejalan dengan konsep alit, madya dan utama. “Jadi tidak ada istilah pemborosan saat beryadnya,” ungkapnya.

Apa fungsi dari Canang Sari dan kapan digunakan? Dikatakannya, Canang Sari dapat digunakan sebagai persembahan dan perwujudan Ida Sang Hyang Widhi. Karena sudah konkrit sebagai bagian dari diri manusia. Apalagi ada unsur Panca Maha Bhuta dalam bhuana agung dan bhuana alit. “Ini biasa digunakan saat hari tertentu seperti kajeng kliwon, Tilem. Jadi kalau tidak bisa membuat pajati karena kondisi tertentu, maka bisa membuat Canang Sari,” pungkasnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #bali #balinese #Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung #canang sari #adat #Canang Genten #hindu #pura #I Gusti Agung Istri Purwati #budaya #tradisi