Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Siwa Tattwa : Konsep Purusa Pradana Awal Mula Penciptaan

I Komang Gede Doktrinaya • Kamis, 28 Juli 2022 | 22:10 WIB
MATATAH : Rerajahan Semara Ratih dalam upacara matatah simbol purusa pradana. I Putu Mardika/Bali Express.
MATATAH : Rerajahan Semara Ratih dalam upacara matatah simbol purusa pradana. I Putu Mardika/Bali Express.
BULELENG, BALI EXPRESS -Purusa dan pradana dalam Agama Hindu dimaknai sebagai proses penciptaan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Konsep ini dalam kosmologi Hindu diyakini menjadi awal mula terciptanya Tri Murti.

Dosen Agama Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja Wayan Sudiarta menjelaskan, dalam naskah Siwa Tattwa dijelaskan bahwa proses penciptaan benih alam semesta itu berlangsung secara bertahap. Mulai dari penciptaan purusa oleh Sang Hyang Siwa.

Dalam sumber tersebut dijelaskan bahwa purusa (cetana) merupakan unsur kesadaran dan pradana (acetana) merupakan unsur ketidaksadaran.

Dalam proses penciptaan itu, setelah terciptanya dua kekuatan purusa dan pradana dalam manifestasi Sang Hyang Widhi sebagai Sang Hyang Rwa Bhineda, kemudian Ida Sang Hyang Widhi bermanifestasi lagi sebagai Sang Hyang Tri Murti (Brahma, Wisnu, Iswara/Rudra) dengan kekuatannya masing-masing sebagai pencipta (Brahma), pemelihara (Wisnu), dan pelebur (Rudra).

Sebagai pasangan Tri Murti diciptakan pulalah Tri Sakti, yaitu Saraswati, Laksmi, dan Parwati. Tri Murti disebut dengan sebutan yakni Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa. Sedangkan untuk Tri Sakti disebut dengan sebutan dewi, yakni Dewi Saraswati, Dewi Laksmi, dan Dewi Parwati.

Sebutan dewa dan dewi mencerminkan kekuatan purusa dan pradana. “Dalam kosmologi Hindu, dengan terciptanya Tri Murti dan Tri Sakti, mulailah di bumi ini ada siklus kehidupan yang teratur, yaitu siklus lahir, hidup dan mati atau utpeti, stiti, pralina. Siklus ini dialami oleh semua ciptaan beliau yang selanjutnya,” ungkapnya.

Selain itu, semua ciptaan juga tunduk pada hukum rwa-bhineda. Sehingga ciptaan tersebut selalu bervariasi atas dua kekuatan yang mempunyai sifat yang berbeda, tetapi saling melengkapi, yaitu sebagai kekuatan purusa dan pradana. Purusa di sini dimaknai sebagai sifat yang tak termusnahkan (langgeng) dan di pihak lain pradana dimaknai sebagai sifat yang termusnahkan (berubah).

Dalam maknanya sebagai unsur yang tak termusnahkan dan yang termusnahkan, berarti kedua unsur tersebut (purusa dan pradana) berada dalam satu wujud. Misalnya dalam wujud manusia selalu ada unsur yang tak termusnahkan, yaitu atman dan ada unsur yang termusnahkan, yaitu badan jasmani.

Berbagai jenis dan bentuk ciptaan-Nya itu dijelaskan pula secara rinci dalam kitab Manawa Dharmasastra Bab I. Ada yang berwujud para Dewa dalam berbagai tingkatan, yaitu Tri Murti, Panca Dewata, Dewata Nawa Sanga, dan dewa-dewa yang lainnya.

Sedangkan Panca Maha Butha yaitu pertiwi, apah, teja, bayu, akasa. Para Rsi, manusia  sebagai brahmana, ksatria, wesya, dan sudra. Kemudian Gndarwa, raksasa, detya, makhluk halus, berbagai jenis tumbuh-tumbuhan, berbagai macam binatang (besar dan kecil), berbagai jenis warna, suara, cahaya dan lain-lain.

Dikatakan dosen asal Desa Bugbug,  Karangasem ini, berbagai ciptaan-Nya itu juga ditetapkan tingkah lakunya, kedudukannya maupun cara-caranya menghasilkan keturunan dengan berbagai cara. Ada tumbuh seperti tumbuh-tumbuhan, proses bertelur kemudian lahir seperti ayam dan itik, serta proses lahir secara langsung seperti manusia dan berbagai jenis hewan.

Sebagai contoh dalam proses perkembangbiakan manusia terjadilah proses biologis seperti pertemuan antara sperma dari unsur purusa dan sel telur dari unsur pradana. Dalam ajaran agama Hindu disebut juga sebagai pertemuan antara sukla (unsur purusa) dan swanita (unsur pradana) atau pertemuan antara kama bang (unsur pradana) dan kama putih (unsur purusa).

Pada tumbuh-tumbuhan juga ada proses penyerbukan, yakni pertemuan antara serbuk sari (unsur jantan/purusa) dan kepala putik (untuk betina/ pradana). “Dalam makna biologis, unsur purusa dan pradana umumnya berada pada dua sosok/wujud yang berbeda,” paparnya. Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bali #Purusa Pradana #Siwa Tattwa #balinese #Awal Mula Penciptaan #adat #hindu #pura #budaya #tradisi