Bendesa Adat Bualu Wayan Mudita mengatakan, secara turun-temurun di desanya percaya bahwa pantang untuk membakar layon saat upacara Ngaben. Hal ini tentunya dilakukan karena dipercaya abu atau asap sisa pembakaran layon dapat mengotori kesucian Pura Uluwatu. Sehingga saat upacara Ngaben, layon akan digantikan dengan sejumput tanah dari liang lahat.
“Prosesi Ngaben di Desa Adat Bualu yang dilakukan adalah jumputan tanah dari liang kubur yang diaben sebagai pengganti layon. Tanah itu dijumput oleh keluarga menggunakan daun dapdap dan dikumpulkan. Sementara layonnya tetap dikubur. Abu pembakaran seperti di tempat lain untuk selanjutnya diupacarai sebelum lanjut dilarung ke laut di Segara Samuh,” ujar Mudita saat dikonfirmasi Kamis (28/7).
Menurutnya, prosesi pangabenan sebenarnya sama dengan di desa lainnya. Bahkan di Desa Bualu juga memiliki Ngaben massal dan nyekah massal. Saat upacara Ngaben, sarana upacara pun juga dibakar.
“Ngaben di tempat kami bisa dilakukan secara pribadi, berkelompok, ataupun massal di Desa Adat. Untuk prosesi Ngaben massal, enam bulan sebelumnya ada batasan, agar dilakukan secara bersama saat Ngaben massal,” ungkapnya.
Ngaben dengan pembakaran layon, lanjut Mudita, sejatinya pernah dilakukan. Namun saat dilaksanakan sempat terjadi gerubug atau wabah penyakit di desanya yang menyerang masyarakat. Setelah dicari tahu penyebabnya, pelaksanaan Ngaben pun berubah. “Kalau dilihat tahun berapa saya juga tidak tahu, sejak dahulu kala. Tapi Ngaben tanpa membakar layon ini kami percaya secara turun temurun,” terangnya.
Meski tidak pernah mengangkat layon, ia menjelaskan, setra atau kuburan tidak pernah penuh. Padahal saat dalam satu setra digunakan untuk dua desa adat, yaitu Bualu dan Kampial. “Astungkara dari beberapa ratus tahun setra tidak pernah penuh. Ada saja tempt yang kosong,” jelasnya.
Disingung terkait perlakuan tulang dan tengkorak dari layon, Mudita mengaku, jika sudah lama dikubur akan dipindahkan. Lokasinya dikumpulkan di bawah pohon besar di dalam setra.
“Kalau sudah lama itu dibongkar, tulang-tulangnya dikumpulkan ditemptkan di satu tempat. Kalau dahulu dari cerita orang tua, saat belum ramainya pariwisata, terkadang tengkorak menjadi satu , tulang kaki juga terkumpul sendiri saat rahinan tertentu,” imbuhnya.