Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pasang Surut Joged Sinabun, Sebulan Pernah Pentas 60 Kali, Kini Nol

I Komang Gede Doktrinaya • Rabu, 3 Agustus 2022 | 23:14 WIB
PENTAS : Sekaa Joged Tunjung Mekar saat pentas. I Putu Mardika/Bali Express
PENTAS : Sekaa Joged Tunjung Mekar saat pentas. I Putu Mardika/Bali Express
BULELENG, BALI EXPRESS-Desa Sinabun, Kecamatan Sawan, menjadi salah satu desa di Kabupaten Buleleng yang cukup banyak terdapat sekaa joged. Para seniman di desa ini rata-rata sudah pernah pentas di berbagai pelosok Bali. Namun, semenjak pandemi Covid-19, orang yang menyewa  turun drastis.

Salah satu sekaa joged yang ada di Sinabun adalah Sekaa Joged Tunjung Mekar di Dusun Dalem, Desa Sinabun. Plang bertuliskan 'Joged Tunjung Mekar Desa Sinabun', terpampang jelas di seberang gang menuju rumah Wayan Netra sebagai penanda untuk memudahkan orang yang hendak menyewa joged.

Netra adalah Kelian Sekaa Joged Tunjung Mekar sejak tahun 1996 silam. Tidak sulit mencari rumahnya. Hanya beberapa meter dari jalan utama Sinabun-Sudaji. “Cari joged Pak nggih? begitu sapanya kepada koran ini saat menyambangi rumahnya. Setelah menjelaskan maksud dan tujuannya, pria berusia 69 tahun ini kemudian dengan ramah mengajak naik ke lantai dua rumahnya yang mungil itu.

Di sana terlihat sejumlah perangkat gambelan joged, seperti rindik, kendang, yang kerap digunakan saat pentas tertata di kediamannya. Bahkan, foto-foto saat ia pentas di berbagai pelosok Bali bersama Sekaa Joged Tunjung Mekar tertempel rapi di dinding rumahnya. Gelung yang dipakai penari joged juga ditempatkan di tempat khusus  di rak kaca.

Netra menceritakan, ketertarikannya dalam seni joged diwariskan sang ayah. Hingga akhirnya sejak 26 tahun silam dipercaya sebagai Kelian Sekaa Joged Tunjung Mekar. Dikatakannya, di Desa Sinabun jumlah sekaa joged sekitar 4 sekaa. Namun para penari maupun penabuhnya tidak semua berasal dari desa setempat. Bisa saja ada dari luar Sinabun, tetapi masekaa di Sinabun.

Sebagai seorang kelian, Netra mirip seperti manajer. Jika ada orang yang hendak menyewa joged, maka dirinyalah yang dicari paling pertama. Tidak jarang juga menghubunginya melalui sambungan telepon. Setelah ada kesepakatan harga, barulah disampaikan kepada anggota sekaanya.

Dalam berkesenian itu, ia melibatkan hampir 15 orang anggota. Mereka bertugas sebagai penabuh gambelan joged. Sedangkan penari yang dilibatkan 5 orang. Para penari ini akan digilir pentas sesuai dengan kebutuhan. “Tergantung pesanan sebenarnya. Kalau yang dicari penarinya banyak, maka sudah pasti anggota sekaa yang diajak juga banyak. Tapi kalau penarinya hanya satu orang, kadang sekaanya 2 sampai 3 orang,” ceritanya.

Dikatakan Netra, sebelum pandemi Covid-19, pihaknya bisa pentas hingga 60 kali dalam sebulan. Itu berarti, rata-rata sekaa yang dipimpinnya itu pentas mencapai dua kali dalam satu hari. Rata-rata tarif sewanya berbanding lurus dengan lokasi pentas dan jumlah anggota serta penari yang dilibatkan. Namun, tawar-menawar  harga antara dirinya dengan pengupah (penyewa) tetap dilakukan sampai mencapai kesepakatan.

Jika pentasnya di luar Buleleng, maka sewanya bisa mencapai Rp 10 juta. Sedangkan  di wilayah Buleleng lebih murah, kisaran Rp 5 juta sampai Rp 6 juta. “Karena kru yang dilibatkan banyak, ya pasti mahal, apalagi untuk biaya operasional, sewa kendaraan, upah penabuh sampai honor penari,” jelasnya.

Netra tak menampik, pandemi Covid-19 yang menghantam sejak 2 tahun silam berdampak besar terhadap jumlah pencari joged. Bahkan dalam sebulan maksimal hanya dua kali pentas. Kadang, dalam sebulan ia benar-benar nganggur, sehingga tidak berpenghasilan.

“Ya mau tidak mau harus sabar agar dapur tetap ngepul, saya juga buat kerajinan kecil-kecilan untuk bertahan hidup,” ungkapnya sembari menunjukkan kerajinan tangan yang terbuat dari batok kelapa.

Lesunya pengupah juga menurutnya tak lepas dari semakin banyaknya konten Youtube yang menampilkan tarian joged. Ia tak menampik, jika hal tersebut juga membawa dampak positif dan negatif. “Sekarang orang sudah sangat gampang menonton joged dari Youtube, tetapi kami sebagai seniman yang berkecimpung di dunia itu berharap tetap ada yang ngupah,” sebutnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#Kelian Sekaa Wayan Netra #Joged Sinabun #balinese #adat #Sekaa Joged Tunjung Mekar #hindu #pura #budaya #tradisi