Dosen UNHI Denpasar Ida Bagus Purwa Sidemen mengatakan, pandita Budha Paksa bertugas untuk melakukan pemujaan pada alam tengah (Bwah Loka). Sedangkan pandita Siwa khusus alam atas (Swah Loka) dan pandita Bhujangga Waisnawa bertugas untuk melakukan pemujaan pada alam bawah (Bhur Loka).
Dalam perangkat pemujaan Budha Paksa Pakarana, ada sejumlah perangkat yang digunakan. Mulai dari rarapan, wanci kembang ura, wanci bhija, wanci samsam, wanci ghanda, pamandyangan, sesirat, pengasepan, pedamaran, patarana atau lungka-lungka, saab/kereb/ tudung, genta (genta padma), bajra, canting, penastan.
Selain itu, pada saat seorang pandita muput sebuah upacara, juga memakai atribut dan busana kepanditaan. Seperti wastra, kampuh, kawaca, pepetet/petet, santog, sinjang, slimpet/ sampet/paragi, kekasang, astha bharana/guduita, gondola, karna bharana, kanta bharana, rudrakacatan aksamala, gelangkana, angustha bharana, dan sebuah amakuta atau yang lebih dikenal dengan nama bhawa atau ketu.
Dijelaskan Ida Bagus Purwa Sidemen, rarapan sebagai salah satu perangkat penting dalam Budha Pakarana. Rarapan berfungsi sebagai tempat diletakkannya semua perangkat pemujaan bagi pandita Budha.
Dengan bentuk persegi empat dengan empat kaki sebagai penyangga, dihiasi dengan ornamen naga pada sisi kiri dan kanan, memberikan makna bahwa rarapan tidak sebatas perangkat pemuja, namun juga sebagai penuntun (disimbolkan dengan naga). “Rarapan juga sebagai simbol pertiwi, sebagai pijakan dalam menapak kehidupan di dunia ini,” jelasnya.
Pandyangan juga bagian dari perangkat yang digunakan oleh pandita golongan Budha. Fungsinya sebagai tempat air suci (tirtha). Sarana ini digunakan selama proses pemujaan maupun muput upacara. Pandyangan juga merupakan simbol padma bermakna sebagai tempat bersemayamnya Sang Hyang Budha, di ulu hati pandita Budha. “Hal ini memberikan ketegasan bahwa dalam diri seorang pandita Budha pada saat mapuja, bersemayam dalam dirinya Sang Hyang Budha,” imbuhnya.
Perangkat pemujaan lainnya yaitu santi, berupa lingga berfungsi sebagai tempat menstanakan Ida Sang Hyang Budha selama muput upacara. Perangkat ini sebagai simbol dari berstananya Sang Hyang Acintya, yang dilukiskan pada ornamen padma pada bagian paling atas.
Ada pula wanci (tempat) kembang ura. Perangkat ini berfungsi untuk meletakkan kembang ura atau bunga yang telah dipotong-potong. Biasanya diambil dari bunga yang berbau harum, seperti kamboja, jepun, cempaka, sandat, dan bunga delima.
Wanci wija berfungsi untuk meletakkan wija atau aksata yang berbau harum, sebagai simbol keabadian atau kehidupan yang abadi. Wanci ghanda berfungsi untuk meletakkan cendana atau ghanda.
“Cendana atau gandha yang berbau harum bermakna sebagai simbol keabadian atau kehidupan yang abadi. Saat digunakan cendana atau air cendana dan air kembang berfungsi untuk menimbulkan bau yang harum pada wija,” katanya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya