Seniman tabuh asal Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Karangasem, I Kadek Abdhi Yasa mengatakan, sampai saat ini belum ada bukti sejarah yang dapat memastikan mengenai kapan gambelan selonding mulai hadir dalam kehidupan masyarakat Bali.
Akan tetapi gambelan selonding diperkirakan sampai di Bali sekitar abad IX, yaitu pada masa pemerintahan Raja Bali Kuna, Sri Dalem Wira Kesari Warmadewa. Hal ini dibuktikan dengan munculnya istilah yang mirip dengan kata 'selonding' dalam beberapa prasasti Kerajaan Bali Kuna.
Dikatakan Abdhi Yasa, bila ditelusuri lebih jauh tentang keberadaan gambelan selonding dari masa ke masa, ternyata konteks penggunaannya tidak pernah lepas dari kegiatan-kegiatan keagamaan masyarakat Bali. Baik dari kebesaran zaman Bali kuno, sampai pada akhir abad XX, gambelan selonding itu tetap mendapat tempat yang paling sakral dalam upacara agama.
Secara struktur, selonding kuna memiliki bentuk bilah yang berbeda dari kedua jenis bentuk bilah gambelan Bali pada umumnya. Bilah selonding berbentuk matun poh yang diartikan bahwa kedua volume sisi atas dan bawah sama, persegi panjang yang memiliki empat lubang di setiap bilahnya.
Gambelan selonding terdiri dari komponen bilah, pelawah,danlikah. Bilah terbuat dari besi, pelawahnya berbahankayu dan likahnya ada yang terbuat dari perunggu,seseh, uyung maupun kayu. “Gambelan selonding adalah satu-satunya jenis gambelan Baliyang bilahnyaterbuat dari besi. Hal tersebut menjadi salah satu identitas yang melekatpada gambelan ini. Mengingat hampir semua gambelan selonding yang berada di desa-desa kuna berbahan besi,” jelas Abdhi.
Dijelaskannya, gambelan selonding memiliki dua jenis tunguhan, yaitu tungguhan pat dan tungguhan kutus. Tungguhan pat yaitu tungguhan yang mewadahi empat bilah yang memiliki ukuran besar dengan tingkatan nada sedang dan rendah.
Sedangkan tungguhan kutus yaitu tungguhan yang mewadahi delapan bilah yang memiliki ukuran bilah sedang hingga kecil dengan tingkatan nada sedang hingga nada tinggi.
Tungguhan pat berbentuk balok persegi empat , sedangkan tungguhan kutus berbentuk balok persegi panjang.
Perbedaan ukuran dan bentuk tungguhan dikarenakan setiap jenis tungguhan mewadahi jumlah bilah yang berbeda. Sehingga secara otomatis ukuran tungguhan akan menyesuaikan ukuran berdasarkan kapasitas jumlah bilah yang diwadahi.
“Walaupun dalam tungguhan selonding ada yang terdiri dari empat dan delapan bilah nada, gambelan selonding tergolong ke dalam gambelan jenis pelog tujuh nada,” ungkapnya.
Abdhi yang juga dosen di Prodi Pendidikan Seni dan Budaya, STAHN Mpu Kuturan Singaraja mengungkapkan, gambelan selonding diyakini berawal dari penjabaran dari suaranya Pranawa OM. Sehingga suara selonding sakral sebagai Suara Pranawa.
“Gambelan selonding adalah gamelan kuno yang paling sakral dalam melengkapi upacara keagamaan (Hindu) di Bali yang berlaras pelog sapta nada, contohnya seperti selonding yang ada di Terunyan, di Bugbug, Tenganan, Ngis, Selumbung, Timbrah, Asak, Bungaya, Besakih, Selat, Bantang dan lain-lainnya,” papar Abdhi.
Bahkan, sepengetahuannya di Desa Adat Bugbug, Karangasem, selonding yang disimpan di dekat Pura Piit Bugbug selalu mengiringi prosesi upacara besar di pura-pura di sana, seperti Usaba Sumbu dan rangkaian Usaba Gumang di Bukit Juru.
Lanjut dia, tak hanya gambelannya yang sakral. Para penabuh selonding pun tidak orang sembarangan. Bahkan di desa-desa tua, biasanya penabuhnya itu mengikuti garis keturunan. Namun, jika di desa Bali dataran pada umumnya yang bukan Desa Bali Aga, syarat bisa menabuh selonding adalah wajib melewati pawintenan pragina. “Kalau sudah melewati pawintenan pragina baru bisa menjadi penabuh,” paparnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya