Dosen Teologi STAHN Mpu Kuturan, Singaraja Wayan Titra Guna Wijaya mengatakan, sebagaimana halnya proses pembangunan pada bangunan tradisional Bali pada umumnya, proses pembangunan Palinggih Surya juga harus melalui proses dan upacara mulai dari persiapan sampai selesai.
“Dalam proses persiapan ada beberapa tahap yang harus dilaksanakan yaitu untuk menentukan gegulak, yang diambil adalah orang yang dituakan di dalam suatu keluarga sebagai pemilik Palinggih Surya yang akan dibangun,” ungkapnya.
Dalam pembuatan gegulak harus melalui upacara pembuatan gegulak terlebih dahulu. Sesudah bahan-bahan dipersiapkan, lalu pada tahap selanjutnya adalah tahap pengerjaan, yang dimulai dari pengerjaan bagian bawah, yaitu bataran sampai pada rongan.
Pada bagian bataran terdapat tepas hujan, bataran dan undag yang sudah diperhitungkan dimensinya pada saat perencanaan.
Sebelum pemasangan tepas hujan dan batarannya terlebih dahulu ada beberapa tahap proses dan upacara yang dilaksanakan, mulai dari proses upacara nyukat, yang bertujuan untuk menentukan posisi surya yang akan dibangun, serta denah dimensi surya.
Proses dan upacara ngruak, yang bertujuan membersihkan lahan yang akan dibangun dan sekaligus membuat lubang pondasi sesuai dengan sukat. Proses dan upacara nasarin, yaitu peletakan batu pertama pada bangunan yang menggunakan sarana upacara. Baru dilanjutkan dengan proses pengerjaan batarannya.
Setelah Palinggih Surya selesai secara keseluruhan, sebelum diupacarai, terlebih dahulu dibersihkan secara fisik yang disebut dengan ngaresikin. “Setelah benar-benar bersih, baru dibuatkan upacara terakhir, yaitu melaspas,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya