Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Seks Simbol Catur Purusa Artha

I Komang Gede Doktrinaya • Kamis, 25 Agustus 2022 | 22:17 WIB
NAIK SEPEDA: Relief orang naik sepeda menghiasi Pura Maduwe Karang. Dosen Bahasa Bali STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Suka Ardiyasa. Ist/I Putu Mardika/Bali Express
NAIK SEPEDA: Relief orang naik sepeda menghiasi Pura Maduwe Karang. Dosen Bahasa Bali STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Suka Ardiyasa. Ist/I Putu Mardika/Bali Express
BULELENG, BALI EXPRESS - Relief erotis yang ditemukan di areal Pura Maduwe Karang di Desa Adat Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, tak bisa dipandang sebagai hal pornografi. Sebab, relief senggama sebagai simbol dari Catur Purusha Artha atau empat tujuan dalam Agama Hindu. Bahkan, seks juga bagian dari yoga.

Seperti dikatakan dosen Bahasa Bali STAHN Mpu Kuturan Singaraja Nyoman Suka Ardiyasa, relief yang ada di dinding palinggih sebelah barat ditemukan di halaman jeroan pura dengan ukuran panjang panil relief 96 cm dan lebar 56 cm.

Relief ini menggambarkan wanita dan pria yang sedang melakukan adegan sanggama dengan latar kejadian di luar ruangan (alam). Tokoh pria digambarkan sedang dalam posisi berbaring dengan menggunakan bantalan sebagai penyangga kepalanya. Tangan kirinya sedang memegang kemaluannya, sedangkan tangan kanannya memegang bagian kepalanya. Pria tersebut menghadap ke arah wanita yang tengah duduk di atas pangkuannya yang juga sama-sama tersenyum dan saling menatap.

Tokoh wanita itu sendiri digambarkan selayaknya wanita dewasa, mempunyai rambut lebat yang disanggul ke belakang dan menutupi area sekitar kepalanya serta telinga dengan ukuran yang besar.

Relief dua ekor burung yang bertengger di atas pohon dan saling menyilangkan lehernya sebagai tanda cinta seolah menggambarkan suasana penuh kasih yang sama seperti pria dan wanita yang sedang bersanggama tersebut.

Kemduian relief erotis di dinding palinggih sebelah timur ditemukan di halaman jeroan pura dengan ukuran panjang panil relief 88 cm dan lebar 41,2 cm. Isi cerita pada relief ini menggambarkan sepasang pria dan wanita sedang melakukan adegan sanggama di hutan.

Posisi si pria sedang berdiri memegang pinggul si wanita dengan menggunakan tangan kirinya, kemudian tangan kanan memegang bagian bahunya. Pria tersebut terlihat membungkuk dengan kepala menghadap ke samping dengan tangan kirinya memegang rambutnya yang terjuntai ke bawah.

“Secara keseluruhan cerita pada panil relief erotis yang dipahatkan pada dinding Pura Maduwe Karang menggambarkan adegan sanggama (seks). Agama Hindu memandang seks sebagai bagian dari salah satu empat tujuan hidup manusia (Catur Purusa Artha) dan seks juga merupakan bagian dari yoga yang dapat menghubungkan antara atma dan paramatma,” bebernya.

Dikatakan Suka, relief erotis yang ditemukan di Pura Maduwe Karang merupakan salah satu simbol pertanda seks yang dibuat oleh seniman masa lalu yang digunakan sebagai ritus keagamaan masyarakat.

Pembuatannya dipakai sebagai media yang dihubungkan dengan kepercayaan agama Hindu yang mengandung makna untuk memperoleh pertolongan, perlindungan, dan kesuburan bagi masyarakat, terutama masyarakat agraris di sekitar pura.

Simbol lain yang ditemukan dalam cerita relief erotis di Pura Maduwe Karang yang bentuknya melambangkan kesuburan adalah adanya penggambaran ragam hias yang mendukung alur cerita relief tersebut.

“Ragam hias seperti penggambaran pohon berbunga, adegan burung yang sedang menyilangkan leher, serta penggambaran suasana alam merupakan simbol lain yang memiliki makna terkait kesuburan,” katanya.

Ia pun menegaskan, penggambaran adegan sanggama dalam relief merupakan bentuk simbol suci yang termasuk dalam wujud kepercayaan simbolis magis. “Jadi semua relief erotis mengandung kesan yang tidak baik (pornografi), tetapi di dalamnya terkandung makna dan nilai yang sangat suci. Seyogyanya bagi masyarakat pada masa sekarang dapat melihat lebih dalam lagi mengenai makna dan nilai baik yang terkandung pada penggambaran relief erotis yang dipahatkan pada bangunan suci,” pungkasnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bali #balinese #adat #Pura Maduwe Karang #Nyoman Suka Ardiyasa #hindu #Ukiran Abad 11-15 M #pura #stahn mpu kuturan singaraja #Relief Erotis #budaya #tradisi