Doa pujaan tersebut diucapkan secara spontan, tanpa menggunakan pedoman yang jelas. Bahasa saa yang digunakan dalam upacara Ngaben oleh Jro Balian biasanya disesuaikan dengan permohonan atau bentuk situasi upacara yang diselenggarakan. “Oleh karena itu, Jro Balian tidak dituntut menggunakan mantra, atau doa. Namun suasana magis dalam upacara selalu dapat dirasakan,” kata Sidemen.
Selain itu, Jro Balian saat muput tahapan upacara pangabenan termasuk Matuwun tidak menggunakan genta maupun mudra. Sebab, yang berhak menggunakan genta saat upacara hanya Jro Kubayan.
Meskipun keberadaan Jro Balian yang muput adalah bagian dari keluarga, maka bukan berarti setiap keluarga inti pendukung Jro Balian bersangkutan seenaknya menyuruh untuk muput upacaranya.
“Jika yang punya acara kematian bukan bagian dari keluarga inti Jro Balian, maka keluarga yang bersangkutan harus memohon muput dengan cara ngaturang panguleman, sebagai tanda pemberitahuan,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya