“Ngejot banten Dapetan ini didasarkan atas pemberian yang tulus ikhlas, dipandang sebagai kewajiban hidup untuk menambah karma yang baik, sehingga tidak mengherankan mereka mengantri untuk ngejot banten dapetan."
Dosen Teologi Hindu STAHN Mpu Kuturan Ni Made Evi Kurnia
BULELENG, BALI EXPRESS -Ngejot banten Dapetan untuk bayi yang belum tiga bulanan saat Hari Raya Galungan menjadi tradisi yang rutin dilaksanakan bagi umat Hindu di Buleleng. Termasuk di daerah lain juga ada, namun beda sebutan.
Tradisi ngejot banten Dapetan
ini umumnya dilaksanakan oleh kerabat keluarga si bayi dengan tujuan mendoakan agar sang bayi senantiasa diberikan kesehatan.
Dosen Teologi Hindu STAHN Mpu Kuturan Ni Made Evi Kurnia menjelaskan, tradisi ngejot banten Dapetan ini menjadi ritual yang lazim dilaksanakan bagi umat Hindu di Buleleng saat Hari Raya Galungan. Sebut saja di Desa Temukus, Kecamatan Banjar, Buleleng.
Dikatakan Evi, tradisi ini merupakan salah satu tradisi Manusa Yadnya sebagai salah satu wujud syukur akan kelahiran seorang anak yang belum berumur 105 hari. Tradisi ini dilakukan pada saat Hari Raya Galungan, di mana ngejot banten Dapetan diberikan kepada salah satu anggota keluarga, tetangga maupun saudara yang memiliki ikatan sosiologis maupun geneologis.
Umumnya, jika ada sanak saudara yang melahirkan dan belum tiga bulanan, namun melewati hari Raya Galungan, mereka akan datang berbondong-bondong untuk ngejot banten Dapetan untuk si bayi sebagai bentuk syukur atas kelahirannya.
“Ngejot banten Dapetan ini didasarkan atas pemberian yang tulus ikhlas adalah dipandang sebagai kewajiban hidup untuk menambah karma yang baik, sehingga tidak mengherankan mereka mengantri untuk ngejot banten Dapetan,” ungkap akademisi asal Desa Temukus ini.
Istilah ngejot dalam bahasa Bali memiliki arti memberi. Ngejot, sebut Evi, merupakan penerapan ajaran kesusilaan umat Hindu sejak zaman dahulu untuk dapat selalu bersikap tidak mementingkan diri sendiri dan mendahulukan kepentingan di luar diri.
Sedangkan, kata Dapetan yang berasal dari akar kata dapet mendapatkan akhiran an, memiliki arti yang didapatkan, ditemukan atau dihasilkan. Banten Dapetan sebagai lambang atau nyasa dari karma wasana, semua yang dialami.
“Dapetan ini adalah simbol apa yang kita temukan atau didapatkan dan kita hasilkan dalam kehidupan ini, baik ataupun buruk, suka maupun duka, pintar ataupun bodoh, kaya maupun miskin,” imbuhnya.
Menurutnya, keberhasilan ataupun kegagalan semua itu tiada lain juga disebabkan oleh karma wasana, yang harus diterima pada kehidupan sekarang ini. Dengan cara banten Dapetan, ini menandakan keluarga, tetangga maupun saudara yang beryadnya ikut serta mendoakan bayi yang baru lahir agar mendapatkan karma wasana yang baik.
Bayi didoakan agar diberikan umur panjang, diberikan kesehatan, dan kelak nantinya diharapkan dapat menjadi anak yang suputra, berbakti kepada Catur Guru. Yakni Guru Rupaka atau orang tua, Guru Pengajian atau guru di sekolah, Guru Wisesa atau pemerintah, dan Guru Swadhyaya atau Ida Sang Hyang Widhi.
Biasanya warga yang sebelumnya sempat menerima banten yang serupa sebelumnya, nanti dia sifatnya mengembalikan lagi ke yang memberi, jika yang bersangkutan memiliki bayi, tapi ada pula yang belum menerima pemberian banten itu, tapi tetap memberikan. Ini biasanya karena ada hubungan keluarga, tetangga dan lainnya. Editor : I Komang Gede Doktrinaya