Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ngejot untuk Sang Hyang Kumara Jadi Bagian dari Bhakti Marga

I Komang Gede Doktrinaya • Sabtu, 3 September 2022 | 21:33 WIB
Dosen Teologi Hindu STAHN Mpu Kuturan, Ni Made Evi Kurnia. Ist
Dosen Teologi Hindu STAHN Mpu Kuturan, Ni Made Evi Kurnia. Ist
BULELENG, BALI EXPRESS -Tradisi ngejot banten Dapetan yang dilakukan umat Hindu di Buleleng, biasanya dilaksanakan oleh kerabat keluarga si bayi dengan tujuan mendoakan agar sang bayi senantiasa diberikan kesehatan.

Banten Dapetan secara makna ditujukan kepada Sang Hyang Kumara. Pasalnya, Dewa Kumara merupakan dewa pelindung bagi bayi agar terhindar dari berbagai pengaruh negatif yang bertujuan untuk mencelakai sang bayi.

Dosen Teologi Hindu STAHN Mpu Kuturan, Ni Made Evi Kurnia menjelaskan, sudah menjadi sebuah keyakinan mulai saat setelah lahir, pada saat itu juga bayi itu diasuh oleh Sang Hyang Kumara, dan untuk itu pula dibuatkan sebuah tempat bayi itu tidur yang disebut pelangkiran Kumara.

Sang Hyang Kumara ini ditugaskan oleh Bhatara Siswa menjadi pengasuh serta pelindung anak-anak yang seketika itu giginya belum tanggal. Sesajen untuk Kumara ini beragam. Seperti banten Dapetan.

“Beliau adalah putra dari Bhatara Siwa yang paling terkecil, dan Sang Kumara ini diceritakan dalam Kala Tattwa Purana, bahwa Kumara dikutuk oleh Bhatara Siwa untuk selamanya berwujud seperti anak-anak dan Kumara juga ditugaskan sebagai penjaga anak-anak sampai mereka mengalami tanggal gigi pertama,” paparnya.

Dalam kepercayaan umat Hindu, Kumara adalah seorang dewa yang tidak mau mempunyai keturunan sehingga tetap menjadi anak-anak, tetap suci dan lugu, dan jika seorang bayi tertawa kecil sendiri, itu dianggap sedang bermain-main dengan penjaganya yaitu Kumara.

“Di pelangkiran Rare Kumara inilah banten dapetan yang diperoleh dari sanak keluarga yang ngejot dihaturkan,” sebutnya.

Setelah menerima banten dari krama lain itu, dilanjutkan dengan natab oleh si anak tersebut. Biasanya yang berhak ngayabin (mendoakan) adalah sosok yang dituakan, misalnya nenek atau nenek buyut bagi si anak. Waktu natab dilakukan siang, setelah semua proses persembahyangan Galungan tuntas.

“Pemberian Dapetan ini juga bagian dari Bhakti Marga yang sarat dengan nilai-nilai teologis. Bhakti Marga merupakan jalan yang paling mudah dilaksanakan sebagai wujud ucapan terima kasih,” paparnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#Dosen Teologi Hindu STAHN Mpu Kuturan #bali #balinese #adat #Sang Hyang Kumara #Ritual untuk Bayi #hindu #Ni Made Evi Kurnia #pura #tradisi #Ngejot Banten Dapetan #Bhakti Marga