Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lontar Gama Tirtha Pedoman Pemuliaan Air dalam Eko-Religius

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 5 September 2022 | 16:20 WIB
SUMBER AIR : Danau Batur sebagai salah satu sumber air. I Putu Mardika/Bali Express
SUMBER AIR : Danau Batur sebagai salah satu sumber air. I Putu Mardika/Bali Express
BULELENG, BALI EXPRESS - Lontar Gama Tirtha merupakan salah satu pustaka Bali yang diwarisi hingga kini oleh masyarakat Bali. Lontar ini mengulas tentang pemuliaan dan penyucian air sebagai bagian dari sistem ekologi dan religi.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Buleleng Nyoman Suardika mengatakan, Lontar Gama Tirtha secara struktur kata dimaknai sebagai 'gama' berarti kepercayaan, ajaran, aliran, dan sebagainya. Sedangkan, 'tirtha' memiliki arti air, mata air, atau air suci. Jadi, secara struktur kata, Gama Tirtha dapat dimaknai sebagai sebuah ajaran mengenai kemuliaan, keutamaan, dan kesucian air.

Lontar Gama Tirtha menunjukkan perhatian terhadap sifat dan karakteristik air terkait dengan fungsinya, yang mana air mengalami kondisi antara bersih dan keruh. Teks tersebut menguraikan dualisme tersebut sebagai gama ning dan gama cemer.

Jika melihat secara fisik, kondisi air itu ada yang jernih (ning) dan keruh (cemer). Lontar Gama Tirtha mengisyaratkan kedua hal tersebut sebagai representasi kesucian dan kecemaran atau kebenaran dan keburukan.

Suardika yang juga dosen Filsafat STAHN Mpu Kuturan menyebutkan, dualisme yang dipaparkan tersebut secara tidak langsung memberikan gambaran kondisi seseorang yang dihadapkan dalam dua pilihan jalan hidup. “Kejernihan air sebagai simbol di dalam melihat kebenaran dan kesejatian menjadi tujuan dalam mencapai kesucian,” jelasnya.

Gama ning dan gama cemer dalam Lontar Gama Tirtha dijelaskan “Mungguing ghama-ghamane hento tusing jamah liu pakriyane, di gumine, ya kasinahang pakriyaning ghama twah dadwa, lwire, gama hning, mwang ghama cemer, yadin puged”.

Terjemahannya : Adapun keyakinan-keyakinan tersebut tidak lah banyak adanya di dunia, secara umum jalannya keyakinan tersebut hanya dua, keyakinan yang bersih, dan keyakinan yang keruh, atau kotor.

Berdasarkan kutipan tersebut dapat dimaknai bahwa berbagai macam keyakinan yang ada di dunia, pada dasarnya hanya ada dua ajaran yang melandasinya yaitu ajaran yang bersih, suci atau benar dan ajaran yang keruh, kotor atau buruk.

“Gama Tirtha memberikan gambaran pertentangan dua paham yang pada dasarnya ada di dalam diri manusia dan di semua ciptaan yaitu Rwabhineda. Segala hal di dunia memiliki dua sisi yang bertentangan, yaitu baik dan buruk, benar dan salah, kurang dan lebih, dan sisi gelap dan terang,” imbuh pendiri Sanggar Nong-Nong Kling ini.

Ia menambahkan, Gama Tirtha sebagai pustaka suci dapat dijadikan pedoman bahwa manusia sebagai makhluk berpikir (idep) tentunya tidak akan dapat lepas dari Rwabhineda. Sehingga kondisinya yang kotor, pikirannya yang gelap, sifatnya yang jahat patut dibersihkan hingga menjadi bersih, jernih, dan terang.

Semua itu diyakini sebagai anugerah dari Maha Kuasa seperti kutipan berikut ini: “Bwat ghamane katrima tur kaledangin antuk ida bhatara jagatnata sing had liyu, twah ghamane ane hning dogen, hane kalokayang gama tirtha pawitra tegesne ghama suci nirmala…”

Terjemahan : Khususnya keyakinan yang diterima dan diperkenankan oleh Yang Maha Kuasa tidaklah banyak, hanya keyakinan yang bersih saja, yang dibumikan sebagai Gama Tirtha Pawitra (Keyakinan Air Penyuci) yang disebut keyakinan yang paling suci.

Kutipan tersebut menyiratkan bahwa keyakinan yang bersih, jernih, dan suci merupakan keyakinan yang diturunkan oleh Yang Maha Kuasa. Hal ini menandakan bahwa kejernihan air merupakan hal yang baik, benar, dan suci.

Segala yang jernih dan suci adalah kebenaran itu sendiri. Gama Tirtha juga dinyatakan sebagai keyakinan yang mampu memberikan kesucian (pawitra) kepada semua yang menganutnya.

Gama Tirtha sebagai simbol sumber kesucian dari segala bentuk ajaran dan keyakinan. Air bersih menjadi acuan di dalam pencapaian kesucian. Air bersih juga dapat diambil dari air yang kotor dengan cara menyaringnya.

“Artinya, segala yang kotor dapat kembali bersih dengan menetralkan segala kotoran yang ada. Begitu juga air yang bersih dapat menjadi kotor jika dicampur dengan lumpur. Orang yang bersih dan suci juga tidak luput dari pengaruh hal yang cela. Maka konteks kesucian tidak akan lepas dari usaha penyucian,” sebutnya. Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #bali #balinese #adat #Eko-Religius #Ketua PHDI Kecamatan Buleleng #Lontar Gama Tirtha #hindu #pura #Pedoman Pemuliaan Air #tradisi #Nyoman Suardika