Hakikat Gama Tirtha yang sebenarnya tertuang pada kutipan berikut : “Tirtha ento artine yeh, nanging ke sing jati yeh ane di tukade, di bulakane, pancorane, sing ja yeh danu, yadin yeh pasih, sing ada yeh hujan, damuh, salwir yeh ane dadi panjusin mwang hinem, sing ja ento, katwiyane ya yeh tirtha mretha ane kabwat turun antuk ida bhatara wawu rawuh, kasiratang di gumine, ida ane inucap padanda wawu rawuh, kahutus antuk ida bhatara jagatkarana. Kacacar teken sawateking para wiku makejang di madyapada. Apang pada manungsung tirthane ento, dadi, pangilangang sagunging letuh di jagate, ring sakala niskala, makadi pamrethaning urip…”
Terjemahan : Gama Tirtha. Keyakinan yang sejatinya ada di dalam diri. Tirtha artinya air, tetapi bukan air yang sebenarnya seperti pada sungai, telaga, pancuran, bukan air danau, air laut, air hujan, embun, dan air yang digunakan untuk mandi dan minum, bukan itu, sejatinya air keabadian yang dibawa turun oleh Ida Bhatara Wawu Rauh, yang dipercikkan ke dunia, beliau diutus oleh Yang Maha Kuasa, disebarkan oleh para pendeta agar air itu dimuliakan untuk menghilangkan marabahaya dan kecemaran dunia jasmani dan rohani, sebagai penghidup segala yang hidup.
Nyoman Suardika menjelaskan dari kutipan tersebut tercermin bahwa air yang dimaksud sejatinya adalah kesucian itu sendiri yang mampu menghilangkan segala kekotoran duniawi dan bencana sehingga kehidupan dapat berlangsung dengan selamat.
Di sisi lain, munculnya Gama Tirtha sendiri disebutkan berkat jasa Pedanda Sakti Wawu Rauh atau dalam dunia sastra disebut Dang Hyang Dwijendra atau Nirartha sebagai utusan dari Tuhan Yang Maha Pencipta.
Dang Hyang Dwijendra diperkirakan datang ke Bali pada abad ke-16 dengan melakukan dharma yatra dan membawa paham Siwa Budha. Berbagai tempat suci di seluruh Bali hampir tidak terlepas dari perjalanan suci Pedanda Sakti Wawu Rauh.
Dengan besarnya kedudukan air, maka air patut diberikan suatu kepedulian. Air danau yang sangat bergantung terhadap keberadaan hutan telah mengalami penyusutan.
Begitu juga sumber air di berbagai tempat, serta air sungai yang hampir tercemar seluruhnya menuntut keberpihakan manusia untuk pemulihannya. Sehingga disarankan untuk menjaga kesucian air dari hulu baik menjaga danau, sungai, laut, sumber mata air lainnya.Termasuk menjaga kelestarian hutan sebagai sumber ekosistem dalam menjaga air agar tetap lestari. "Jadi, Lontar Gama Tirta ini bisa memberikan pedoman bagi kita di Bali dalam menjaga kesucian air di Bali,” tutupnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya