Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Etika Membuat Banten Agar Terhindar dari Cuntaka

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 12 September 2022 | 12:54 WIB
UPACARA : Proses upacara yadnya mersihin karang. Serati banten Jro Ketut Utara. Ist/I Putu Mardika/Bali Express
UPACARA : Proses upacara yadnya mersihin karang. Serati banten Jro Ketut Utara. Ist/I Putu Mardika/Bali Express
BULELENG, BALI EXPRESS - Membuat sarana upacara seperti banten tak hanya dilandasi dengan niat baik dan suci. Namun, tetap harus memperhatikan etika atau tingkah laku yang baik dan benar.

Serati Jro Ketut Utara mengatakan tidak bisa dipungkiri saat ini terjadi fenomena pergeseran tata susila (etika) dalam membuat sarana upacara (banten) pada kehidupan masyarakat Bali. Terlebih susila merupakan aktualisasi dari ajaran kitab suci Weda secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, ketika membuat sarana yadnya tentu harus memahami etika tertentu yang wajib dijalankan. Bukan tanpa alasan, mengingat sarana yadnya adalah materi atau alat yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi pada kegiatan keagamaan yang dilaksanakan oleh umat Hindu.

“Niat suci dan tulus itu sangat penting, tetapi jangan lupa etika atau susila dalam pembuatan sarana upacara. Susila itu dimaknai sebagai tingkah laku yang baik dan benar di dalam pembuatan sarana upacara atau banten,” jelas pria yang sudah puluhan tahun menekuni serati banten ini.

Lantas, apa saja etika membuat banten? Serati banten asal Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng ini menyebutkan, membersihkan diri terlebih dulu atau masuci laksana, penting dilaksanakan. Tujuannya agar tingkat kesucian serta kualitas upakara selalu dapat dipertahankan, karena upakara adalah simbol dari bahasa Weda dengan aksara suci yang berupa reringgitan.

“Jika upakara telah selesai dibuat perlu diperciki tirta sebagai panglukatan, sehingga kekuatan Sang Hyang Widhi telah bersemayam kedalam banten tersebut. Maka dari itu, berbusanalah pada saat membuat banten dengan busana adat ringan,” imbuhnya.

Pada saat memulai membuat banten, disarankan agar umat Hindu harus sudah rapi, terutama penataan rambut harus disisir dan diikat dengan rapi, agar terhindar dari untaian rambut yang jatuh pada banten, karena dapat mengakibatkan banten tersebut kecuntakan.

Apabila seseorang perempuan yang membuat upakara, jangan sekali-kali mengerjakan bila dalam kondisi datang bulan. Karena hal ini dapat mengakibatkan kecuntakan terhadap sarana upakara tersebut.

Bahkan, pada saat membuat banten disarankan untuk sedikit berbicara. Agar sarana upakara terhindar jangan sampai terkena percikan ludah yang dapat mengakibatkan cuntaka pada upakara.

“Pada saat membuat upakara hindari jangkauan anak-anak, jangan sampai upakara dapat dirusak,” pesannya.

Seseorang yang membuat upakara tidak boleh posisi duduknya matajuh masaku tunggal yang merupakan sikap Drati Krama, mengakibatkan kecuntakan upakaranya. Serati banten juga disarankan ngadegang dewa tukang dengan sebutan Sang Hyang Tapeni.

Dalam membuat sarana upacara atau banten, etika sangat penting diperhatikan, dari hal yang paling sederhana seperti menggunakan alas yang berupa tikar dan lain sebagainya, agar perlengkapan banten kebersihannya terjaga.

“Selanjutnya berdoa kepada Sang Hyang Tapeni agar diberikan kelancaran dalam proses membuat upakara agar sarana upacara yang dibuat sakral tetap dijaga kesuciannya,” paparnya.

Dalam Lontar Tapeni yadnya juga dijabarkan, mengenai etika membuat upakara sebagai berikut : “Ih……Sira Sang Umara Yadnya, rengenan rumuhun pewarah nira Dewi Tapeni, yan sira mahyun anangun yadnya, elingakna rumuhun den apened, apan yadnya adruwe tattwa, fan yadnyanta tan manut ring tattwania, tan bina kadi wang wuta, mangkana juga kong yadnya adruwe sesana yan tan manut ring sesania sama juga kadi wang wisu tuli, bungakna yadnya ika adruwe dudonan, yan tan manggeh ring anggania ika ingaranan rumpuh, jadang lirung yadnyanta, tan bina kadi yadnya kutang ring margi.”

Terjemahannya : Hai….bagi siapa yang membuat yadnya, perhatikan tuntunan dari Sang Dewi Tapeni. Jika akan membuat yadnya, perhatikan arahan yang ada pada sastra, karena Yadnya yang dibuat harus ada dasarnya atau filsafatnya.

Jika beryadnya tidak berdasarkan tatwa atau filsafatnya, sama saja dengan orang yang buta. Jika dalam membuat yadnya tidak berdasarkan sesana atau etika, sama saja dengan orang yang tidak mendengar, jika dalam membuat yadnya harus berdasarkan tatanan, jika tidak berdasarkan tatanan sama saja dengan orang yang lumpuh. Maka dari itu, yadnya yang dibuat sama saja dengan yadnya tanpa artinya.
 
Photo
Photo
Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #bali #balinese #Cuntaka #adat #Ini Etika Membuat Banten #Rajasika #Jro Ketut Utara #hindu #pura #Serati Banten #tradisi #Lascarya