Sastrawan Ida Bagus Made Bhaskara menjelaskan prosesi pacalonarangan sebenarnya harus dilihat dari berbagai sudut pandang. Dalam berbagai sastra disebutkan ada tiga jenis ruwatan. Yakni ruwat jadma, ruwat bhatara dan ruwat gumi atau jagat. Sedangkan pementasan Calonarang adalah bagian dari ritual untuk meruwat pertiwi atau bumi.
Penyalonarangan, sebut Ida Bhaskara adalah sebuah pertunjukan yang bukan hanya ranah profan atau hiburan semata. Tetapi memiliki nilai sakral atau magis religius.
“Jadi, kalau disebut penyalonarangan, maka hanya sebatas merujuk pada kisah Calon Arang, Rangdeng Girah. Tetapi kalau melihat dalam sudut pandang panglukatan, penyalonarangan adalah bagian dari ruwatan gumi atau jagat," ujar pria asal Griya Gunung Kawi Manuaba, Tampaksiring, Gianyar ini.
Maka dari itu, lanjutnya, kisah penyalonarangan dikaitkan dengan pertunjukan dengan aktivitas saat Ida Bhatara Sasuhunan napak pertiwi.
Pementasan Calonarang dinyatakan mengandung nilai magis religius karena pada saat momen tersebut, Ida Bhatara nedun untuk napak pertiwi. Tentu tujuannya memberikan anugerah, dan saat inilah melakukan ruwatan terhadap jagat. Hanya saja, hal ini perlahan mulai ditinggalkan.
Jika merujuk sastra, Babad I Barong Kalung atau Babad I Barong Papat, di sana dipaparkan secara detail, apa yang harus dilakukan saat nyolahang barong atau rangda. Sebab hal ini saling berkaitan dan memengaruhi.
Ada pakem yang harus dipahami seseorang saat nyolahang Calonarang. Karena ini bukan pertunjukan biasa yang bersifat profan. Tetapi ada upaya untuk ngalukat gumi. Oleh karena itu, pertunjukannya penuh dengan etika dan aturan.
Tidak bisa dipungkiri, seorang penari ada etika yang harus diikuti sebagai penari Rangda saat nyuwun dan nyungsung ketika Ida Bhatara tedun. Termasuk nunas Sang Hyang Taksu di rumah masing-masing agar diberikan keselamatan
Setelah itu, penari yang nyolahang wajib melakukan sembahyang di tempat pentas. Fenomena belakangan ini, banyak Calonarang yang dilaksanakan di Pura Sad Kahyangan, pura umum yang tidak ada setra. Selain itu, banyak juga memakai Rangda yang bukan sasuhunan. Inilah perubahan yang terjadi.
Fenomena lain yang kerap terjadi saat pementasan Calonarang adalah masyarakat kerap disajikan lawakan. Tak jarang lawakan itu berupaya dipenuhi oleh seorang penari Calonarang. “Padahal tokoh pemeran patih agung itu harus keras, berperan sebagai matah gede harus serem dan menguasai ilmu pangiwa dan panengen, penasar harus seken atau serius,” paparnya.
Menurutnya, memerankan sosok patih agung harus digambarkan dengan karakternya berwibawa, sehingga sesana manut linggih. Keagungan patih jangan sampai direndahkan. “Dahulu tidak ada Calonarang ada berisi joged. Tetapi sekarang sudah mulai ada. Kalaupun ada joged, mestinya ditampilkan di momen yang lain, sehingga tidak mengganggu kesakralan pementasan Calonarang,” sebut penekun lontar ini.