Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Uniknya Ritual Mapeningan di Kubutambahan

I Komang Gede Doktrinaya • Rabu, 12 Oktober 2022 | 22:24 WIB
MAPENINGAN : Pura Desa Kubutambahan, tempat dilaksanakannya ritual Mapeningan yang puncak perayaan bertepatan Purnama Sasih Kapat, Senin (10/10). I Putu Mardika/Bali Express.
MAPENINGAN : Pura Desa Kubutambahan, tempat dilaksanakannya ritual Mapeningan yang puncak perayaan bertepatan Purnama Sasih Kapat, Senin (10/10). I Putu Mardika/Bali Express.
BULELENG, BALI EXPRESS - Desa Adat Kubutambahan, Buleleng kembali menggelar ritual Mapeningan atau ngamedalang Ida Hyang Ratu Sakti Pingit bertepatan pada Purnama Sasih Kapat, Senin, 10 Oktober. Ritual ini dilaksanakan di Pura Bale Agung Kubutambahan.

Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) sejak Selasa (4/10) sore, krama setempat tampak melakukan persiapan di Pura Bale Agung. Pura itu dihiasi dengan janur dan perlengkapan lainnya. Krama istri juga sudah mempersiapkan sarana upakara untuk ritual yang dilaksanakan setiap 5 tahun itu.

Photo
Photo
Klian Adat Kubutambahan Jro Ketut Warkadea I Putu Mardika/Bali Express

Klian Adat Kubutambahan Jro Ketut Warkadea menceritakan, dalam menyambut ritual Mapeningan, krama Desa Adat Kubutambahan wajib menjalankan yasa kerti (peberataan) atau pantangan.

Peberataan ini dilaksanakan selama 16 hari. Terhitung saat Tilem Sasih Katiga pada 25 September 2022 lalu, sampai 11 Oktober. Pada saat itu, krama Kubutambahan wajib maberata (puasa) memakan, memotong ataupun menjual makanan olahan suku pat (hewan kaki empat).

Pun demikian dengan upacara atiwa-tiwa (Pitra Yadnya), pawiwahan, mapandes (Manusa Yadnya), ngersigana, balik sumpah, macaru, mangguh (Butha Yadnya), piodalan ring merajan, Pura Paibon (Dewa Yadnya) agar tidak dilaksanakan selama paberataan.

“Kecuali upacara Tiga Bulanan diperbolehkan dilaksanakan dalam kurun maberata. Hanya saja tetap dilarang memotong hewan suku empat. Seperti babi, sapi kerbau, karena itu sudah bisama yang diyakini sejak dahulu secara turun-temurun,” kata Warkadea.

Diceritakannya, ritual yang tak pernah absen digelar ini sebagai bentuk wujud bakti krama kepada Ida Ratu Hyang Sakti Pingit yang sekarang telah dicatatkan dalam berbagai prasasti. Khususnya pada raja-raja di Bali dengan abhiseka Batara Prameswara Sri Hyang Ning Hyang Adidewalancana.

Sebelas hari sebelum puncak upacara dilaksanakan, krama memang sudah mulai persiapan. Mulai dari Ngusaba Penyajan hingga Metata Linggih. Ini sebagai bukti bahwa krama desa sepakat ngamedalang Ida Ratu Hyang Sakti Pingit. Termasuk juga memilih (pingitan) lima orang remaja.

Para remaja laki-laki ini dipilih untuk memundut pralingga Ida Bhatara dengan terlebih dulu melakukan penyucian diri. Proses selanjutnya adalah pingitan, saya, tukang banten pamangku, klian subak, sekalian ngingsah beras dan negtegang Bhatara Sri. “Proses pingitan ini sudah dilaksanakan Jumat, 30 September. Termasuk diberikan busana pingitan, dan penyucian,” paparnya.

Pada Sabtu (8/10), krama nuwur Ida Ratu Hyang Sakti Pingit ke Desa Bulian sekira pukul 22.00 Wita. Keesokannya dilanjutkan dengan mendak Ida Hyang Ratu ke Bulian menuju Pura Desa Kubutambahan sekitar pukul 05.00 Wita.

Krama nuwur Ratu Hyang Pingit ke Pura Gede Bulian karena Kubutambahan memiliki ikatan religius dengan desa tersebut, dan sudah terjalin sejak zaman dahulu. “Krama meyakini jika lokasi payogan Ida Hyang Ratu Pingit berada di Pura Gede Bulian, Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan. Pralingga Ida yang berbentuk prasasti perunggu tersebut kemudian dibawa ke Pura Bale Agung Kubutambahan untuk disucikan,” imbuhnya.

Proses penyucian pralingga berupa tambra prasasti saat Purnama Kapat dilakukan Jero Mangku pangempon Pura Bale Agung didampingi lima orang pingitan. Lima orang anak pingitan inilah yang mendapat tugas nyungsung nyunggi (memikul tambra prasasti).

Menariknya, saat prosesi penyucian dilaksanakan, semua warga wajib mematikan lampu di rumah masing-masing. Begitupun di Pura Bale Agung, pencahayaan hanya menggunakan linting (api kecil menyerupai lilin). “Selama prosesi selama beberapa jam Desa Kubutambahan menjadi gelap gulita,” paparnya.

Saat proses Ida Ratu Hyang Sakti Pingit Mapeningan ke sejumlah pura di Kubutambahan, Buleleng ada hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Misalnya, ketika masyarakat yang kebetulan melintas dan berpapasan di jalan, wajib untuk mematikan mesin kendaraan sejenak. Pengendara juga diminta turun sembari memberikan kesempatan saat Ida Sesuhunan medal.

Klian Adat Kubutambahan Jro Ketut Warkadea mengatakan, saat Mapeningan dilaksanakan, sebanyak 21 sarad turut mengiringi Ida Ratu Hyang Sakti Pingit ke sejumlah pura. Seperti Pura Puseh Penegil Dharma, Pura Penyusuan.

Upacara akan dimulai dari pukul 08.00 Wita. “Karena ngiringan Ida itu di ruas jalan umum Singaraja-Sanih, maka dimohon kesadaran para pengendara untuk menepi sejenak, mematikan mesin kendaraan sembari turun dari kendaraannya sampai Sesuhunan kami lewat,” jelasnya.

Menurutnya, hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Terlebih, orang yang mundut (memikul) puluhan Sarad kondisinya kerap dalam keadaan trance.

“Ini khusus bagi yang berpapasan saja. Karena kalau diabaikan, takutnya terjadi hal-hal yang tidak dikehendaki. Kami juga sudah melayangkan surat permakluman, agar masyarakat yang melintas bisa memaklumi,” tutupnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #bali #Ini Uniknya #balinese #hindu #pura #Ritual Mapeningan #tradisi #Desa Adat Kubutambahan