Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tiga Tari Wali Anyar Iringi Puncak Karya Pura Agung Mpu Kuturan

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 24 Oktober 2022 | 14:40 WIB
REJANG : Tarian Rejang Saluang, salah satu tari wali yang mengiringi puncak Ngenteg Linggih di Pura Agung Mpu Kuturan, Singaraja, Sabtu (22/10). I Putu Mardika/Bali Express.
REJANG : Tarian Rejang Saluang, salah satu tari wali yang mengiringi puncak Ngenteg Linggih di Pura Agung Mpu Kuturan, Singaraja, Sabtu (22/10). I Putu Mardika/Bali Express.
BULELENG, BALI EXPRESS -Tiga tari wali pentas perdana bertepatan dengan pelaksanaan puncak Upacara Ngenteg Linggih Pura Agung Mpu Kuturan, Singaraja. Ketiga tarian itu adalah Tari Baris Tri Murti, Tari Rejang Pemendak dan Tari Rejang Saluwang. Ketiga tarian ini tercipta dengan masing-masing filosofinya.

Tari Rejang Pemendak misalnya, melalui penata tabuh I Putu Gede Parmajaya, tarian ini diciptakan dari ide awal pengungkapan rasa bhakti penggarap terhadap Ida Bhatara Mpu Kuturan dan lembaga STAHN Mpu Kuturan Singaraja.

Dengan di sthanakannya pratima Ida Bhatara Mpu Kuturan, maka dalam setiap pujawali yang dilaksanakan di Pura Agung Mpu Kuturan akan dilaksanakan upacara Makala Hias.

Untuk memohon kehadiran Ida Bhatara Mpu Kuturan, maka Tari Rejang Pemendak ini diciptakan sebagai ikon Pura Agung Mpu Kuturan. Tarian ini untuk memendak dan menghadirkan Ida Bhatara Mpu Kuturan guna memberikan waranugraha, kerahayuan, kerahajengan kepada seluruh civitas akademika STAHN Mpu Kuturan Singaraja.

Dari tabuh yang diciptakan, Gusti Ayu Desy Wahyuni kemudian menciptakan gerakan-gerakan indah penuh kesakralan yang disatukan untuk menjadi sebuah tarian. Tarian ini semakin terlihat magis dengan tambahan suara gerong yang juga diciptakan oleh I Putu Gede Parmajaya.

Sementara untuk Tari Rejang Saluwang tercipta atas dasar ungkapan rasa terima kasih kehadapan Ida Bhatara Mpu Kuturan terhadap jasa-jasa yang telah menyatukan rakyat Bali dari berbagai perbedaan keyakinan.

Tarian yang juga diciptakan Desy Wahyuni, memiliki ciri khas garapan tarian sakral dengan gerakan sederhana, hanya dengan meniru gerakan-gerakan alam, seperti gerakan pohon, gerakan angin dan gerakan air serta gerakan alam lainnya.

Diramu dijadikan satu dengan menekankankan pada aspek estetika dan kelemah lembutan alunan musi (tabuh) yang digarap oleh Parmajaya, disusun dengan melodi yang sangat sederhana.

Sementara Tari Baris Tri Murti, berbeda dengan dua tari wali lainnya. Tari ini dibawakan oleh sembilan orang laki-laki sebagai simbol dari Dewata Nawa Sanga. Gerakan-gerakan tari yang tegas dan lugas diciptakan oleh I Nyoman Sugita Rupiana yang merupakan mahasiswa pascasarjana STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Tari ini menggambarkan perjalanan sejarah masyarakat Hindu di Bali dengan banyaknya sekte-sekte yang ada, kemudian dapat disatukan menjadi paham Tri Murti oleh Ida Bhatara Mpu Kuturan.

Penggarap tari menuangkan ide melalui kreativitas daya seni, dengan meramu instrumen musik yang kembali digarap oleh Parmajaya dengan penonjolan pada terompong, kendang dan cengceng disatukan dengan instrumen gamelan lainnya.

Desy Wahyuni menjelaskan, proses penggarapan ketiga tari wali ini terbilang sangat singkat. Pengerjaannya diawali dengan penggarapan tabuh, barulah kemudian mengisi gerakan tari. “Jadi semua tari wali ini inspirasinya adalah dari Mpu Kuturan dan juga Menjangan atau Saluwang,” jelasnya.

“Karena ini tari wali, jadi akan dipentaskan dalam setiap upacara yadnya yang berlangsung di kampus STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Apakah itu Saraswati, Siwaratri dan juga upacara yadnya lainnya,” tambah Desy Wahyuni.

 
Photo
Photo
Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #ngenteg linggih #Banten Dibuat Mahasiswa #balinese #adat #bali hindu #Dr I Gede Suwindia #Pura Agung Mpu Kuturan #Ketua STAHN Mpu Kuturan #STAHN Mpu Kuturan