Pura ini terletak sekitar 2 kilometer dari kantor Perbekel Desa Pancasari. Uniknya, saat air diminum di lokasi atau di tempat sumbernya, airnya rasanya masam. Namun, jika dibawa pulang, rasa masam dipastikan akan hilang.
Pamangku Pura Taman Beji, Jro Mangku Wayan Laba mengatakan, keberadaan parahyangan Pura Taman Beji lebih dikenal dengan Patirtaan Yeh Masem. Ia pun belum mengetahui secara pasti bagaimana sejarah pura tersebut, namun seingatnya pura itu sudah ada sejak zaman dahulu.
“Sebelum direhab, memang hanya ada satu Palinggih Dewa Ayu dan kayu beringin besar. Setelah itu direhab pada tahun 2001 kebetulan ada donatur dari krama desa,” kata Jro Mangku Wayan Laba.
Ia menjelaskan pujawali di Pura Taman Beji ini dilakukan bertepatan pada Purnama Kalima. Seingatnya, pujawali di pura ini rutin dilaksanakan. Namun, dahulu juga pernah tidak dilaksanakan pujawali, karena air naik sampai ke jeroan.
Lalu kenapa disebut Tirta Yeh Masem? Mangku Wayan Laba menyebut penamaan Tirta Yeh Masem tidak lepas karena air itu jika dikecap maka rasanya masam. Akan tetapi, apabila air tersebut dibawa pulang, maka rasa asam dipastikan hilang.
Pria yang sudah ngayah sejak tahun 2018 ini mengatakan, pura ini memang utamanya dijadikan sebagai tempat untuk menyucikan pratima dan pralingga saat pujawali di Pura Kahyangan Tiga di Pancasari.
Tidak menutup kemungkinan pula juga ada krama yang datang untuk nangkil dari berbagai wilayah. Seperti Denpasar, Singaraja. Konon, mereka ada yang mendapat pawisik ( petunjuk gaib) untuk nunas panglukatan di pura ini.
“Banyak yang sudah mendapatkan manfaatnya. Kalau ada pamedek yang nangkil saya hanya ngaturang uninga saja. Katanya banyak pamedek yang mendapat petunjuk malukat di sini. Ada yang mabebaosan di sini. Dan disampaikan apa masalahnya, sampai sudah sembuh seperti sediakala,” tutupnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya