Ahli pembaca lontar Gedong Kirtya Putu Suarsana menyebutkan, Lontar Wariga Krimping itu merupakan bagian dari lontar Darma Pemacul yang mengatur tentang pertanian. Khusus dalam lontar Wariga Krimping mengatur tentang hari baik. “Dasar dari pertanian itu adalah lontar Darma Pemacul. Dalam lontar itu diatur tentang hal-hal pertanian. Ini berkaitan juga dengan lontar Wariga Krimping,” ungkapnya.
Adapun hari baik yang tercatat dalam lontar tersebut yakni Ratu Makramas pada Selasa (Anggara), Sabtu (Saniscara), wage, byantara, wurukung, guru, jaya, dangu, menga, sri, manuh. Hari-hari itu digunakan untuk memulai merabas dan menghilangkan gelagah dan teki. Baik untuk menyadap air, tidak baik untuk menaikkan air ke sawah dan memperbaiki empangan air sawah.
Kemudian waktu Ratu Mangasih, yakni Rabu (Budha), Kamis (Wraspati), kliwon, dora, paniron, mandala, yama, dangu, menga, bayu urung. Hari tersebut baik untuk menyadap air, baik untuk mengambil sapi, menaikkan air ke sawah, segala yang ditanam baik, jangan menebang tebu dan bambu.
Selanjutnya adalah Ratu Mengrenteng seperti hari Jumat (Sukra), pahing, byantara. Waktu itu baik untuk memulai bekerja di sawah, baik untuk menanam jenis tumbuhan merambat seperti kacang.
Lalu, Ratu Mangrebut Putri seperti hari Senin (Soma), Rabu (Budha), kliwon, byantara, wurukung, erangan, sri, pepet, mertayoga. Hari itu baik untuk menanam segala jenis tanaman, baik untuk menanam pisang, padi dan kelapa.
Terakhir adalah Ratu Amujangkara seperti hari Kamis (Wraspati), pon, byantara, maulu, dadi, yama, mandala, pepet, purnasuka. Hari tersebut baik untuk menurunkan bibit di sawah, segala yang ditanam baik, jangan menaikkan air ke sawah, jangan memperbaiki empegan air sawah, jangan memperbaiki pematang sawah dan baik menyadap air.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya