Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Karya Agung Mewayon, Ritual Terbesar Wujud Rasa Syukur Krama

I Komang Gede Doktrinaya • Rabu, 2 November 2022 | 02:16 WIB
TARI SAKRAL : Pementasan Tari Rejang Ngunde pada Karya Agung Mewayon di Pura Desa Cempaga. I Putu Mardika/Bali Express
TARI SAKRAL : Pementasan Tari Rejang Ngunde pada Karya Agung Mewayon di Pura Desa Cempaga. I Putu Mardika/Bali Express
BULELENG, BALI EXPRESS -Desa Adat Cempaga, Kecamatan Banjar, Buleleng memiliki tradisi upacara khusus yang dilaksanakan setahun sekali, bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat. Ritual yang dinamai Karya Agung Mewayon ini diyakini sebagai upacara yang paling besar bagi masyarakat (krama) setempat.

Kelian Bendesa Adat Cempaga Putu Karya Darma mengatakan, Karya Agung Mewayon dilaksanakan selama tiga hari, yang dipusatkan di Pura Desa Cempaga.

Karya Agung Mewayon memang sebagai puncak dari pujawali yang ada di Desa Cempaga. Sehingga memiliki rentetan yang cukup panjang. Sebelum Mewayon, ada prosesi pujawali di sejumla pura di desa itu, diantaranya pujawali diawali di Pura Cescesan, selanjutnya di Pura Pendem. Kemudian pujawali di Pura Tajen atau Pura Tangluk Merana. Biasanya dilaksanakan pada September atau Sasih Katiga.

Di Pura Tajen ini biasanya dilaksanakan prosesi tabuh rah. Tabuh rah rata-rata digelar sebanyak tiga seet. “Tujuan tabuh rah di Pura Tajen adalah untuk menggantikan darah manusia dengan darah binatang. Tujuannya menetralisasi alam agar tidak terkena gering merana,” kata Karya Darma.

Kalau tidak dilaksanakan tabuh rah, lanjutnya, takutnya manusia akan kena musibah. Misalnya terjadi keributan seperti yang pernah terjadi pada tahun 1998 silam. Hal itu diduga karena tidak pernah melaksanakan tabuh rah di Pura Tajen. “ Kini rutin dilaksanakan setiap tahun, tepatnya pada Sasih Katiga,” sebutnya.

Uniknya, tidak hanya melakukan tabuh rah, di Pura Tajen juga ada pementasan Cupak Gerantang. Hal ini terjadi karena ada tapakan Rangda yang diyakini senang dengan pementasan seni drama Cupak Gerantang. Ketika itu dipentaskan, tapakan Rangda nadi (trance) dan kemudian nadah caru. “Artinya bisa nyomia caru. Banyak orang yang kesurupan,” sebutnya.

Setelah itu, dipentaskan juga Tari Gandrung. Tahapan berlanjut dengan Mekiis Nyepi adat, Nyepi adat. Saat Nyepi itu, masyarakat Cempaga juga melaksanakan Catur Brata Panyepian. Seperti amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), amati geni (tak menyalakan api) amati lelanguan (tidak bersenang-senang). Akses keluar masuk desa ditutup selama 24 jam.

Saat Karya Agung Mewayon dilaksanakan, sejumlah tarian sakral dipentaskan. Seperti Tari Rejang, Tari Igel Truna, Igel Desa, Igel Ulun Desa. Mereka pentasnya di areal Pura Desa Cempaga.

“Karya Mewayon ini rutin dilaksanakan setiap tahun. Bisa dibilang upacara terbesar yang dilaksanakan oleh masyarakat kami di Cempaga. Karena memang rangkaiannya cukup panjang dan melibatkan ribuan krama,” jelas pria berusia 48 tahun itu, Jumat (28/10) siang.

Karya ini hanya boleh tidak dilaksanakan apabila ada cuntaka (sebel) desa di Cempaga. Sebel desa yang dimaksud itu misalnya ada anggota Ulun Desa yang meninggal dunia, sehingga karya ini batal dilaksanakan.

Kata Mewayon, sebut Karya Darma, berasal dari kata dasar maayu-ayu. Makna maayu-ayu adalah Ida Bhatara turun kabeh. Upacara ini juga dimaknai sebagai wujud syukur kepada Ida Bhatara karena sudah memberikan kesejahteraan yang berlimpah bagi masyarakat Cempaga. Seperti hasil kebun yang berlimpah, masyarakat hidup tentram dan damai.

“Secara ekonomi kami sudah diberikan kemakmuran, hasil cengkih, durian, kopi bisa panen. Jadi untuk mewujudkan rasa syukur kami ini dilakukan dengan ritual Karya Agung Mewayon,” imbuhnya.

 
Photo
Photo
Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bali #Wujud Syukur Krama #balinese #Ritual Terbesar #Pura Desa Cempaga #hindu #tradisi #Karya Agung Mewayon #Tari Rejang Ngunde