Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Magepokan di Sembiran, Sukacita Petani Usai Perangi Hama

I Komang Gede Doktrinaya • Kamis, 3 November 2022 | 02:04 WIB
MAGEPOKAN : Prosesi ritual Magepokan di Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula pada malam hari, bertepatan dengan Purnama Sasih Kalima beberapa waktu lalu. Ist
MAGEPOKAN : Prosesi ritual Magepokan di Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula pada malam hari, bertepatan dengan Purnama Sasih Kalima beberapa waktu lalu. Ist
BULELENG, BALI EXPRESS -Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng memiliki ritual sejenis perang perangan yang dinamai Magepokan. Tradisi sebagai simbol wujud syukur atas hasil pertanian yang berlimpah ini, dilaksanakan pada malam Purnama sasih kalima di Pura Puseh Duur desa setempat.

Kelian Desa Adat Sembiran, Nengah Arijaya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) menyampaikan bahwa tidak mengetahui secara pasti sejak kapan tradisi ini digelar oleh leluhurnya. Pun demikian, tidak ada sumber tertulis yang mengulas secara khusus tentang Magepokan ini.

Photo
Photo
Kelian Adat Sembiran Nengah Arijaya. Ist

Yang jelas, tradisi ini sudah diwariskan secara turun-temurun secara lisan di desa setempat. Sehingga sampai sekarang, ritual sakral ini masih dilaksanakan dari generasi ke generasi.

Arijaya menjelaskan, tradisi ini rutin dilaksanakan pada saat upacara ngusaba di Pura Puseh Duur. Pasalnya, ngusaba dan Magepokan menjadi suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dalam piodalan di pura tersebut.

“Tradisi Magepokan ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Sarana yang digunakan dalam pelaksanaan tradisi ini adalah tombak (alat perang), serta buah-buahan hasil kebun, seperti coklat, mangga, pisang, kelapa, mete dan lainnya,” jelasnya.

Magepokan tidak lain adalah perang-perangan yang melibatkan dua kelompok. Yaitu kelompok truna dan kelompok krama desa. Kedua kelompok itu disimbolkan sebagai hama dan petani. Mereka akan berperang.

Setelah berperang, juru tegen yang membawa hasil kebun (buah-buahan hasil panen) dan joged gandrung menari. Ini bisa dikatakan setelah berperang melawan hama, mereka magirang-girangan (berbahagia).

“Secara esensial, tujuan dilaksanakannya tradisi ini adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena piodalan sudah berjalan dengan baik dan juga sudah menjaga hasil perkebunan dan pertanian terhindar dari hama,” paparnya.

Ada tahapan yang harus dilalui sebelum Magepokan dimulai pada malam hari, di mana pada siang harinya berlangsung upacara ngusaba di Pura Puseh Duur. Selanjutnya krama mempersiapkan beragam sarana yang digunakan dalam ritual ini. Diantaranya sarana tombak, buah-buahan serta daun-daunan.

Selain tombak, sarana yang digunakan juga berupa tegenan buah dan daun-daunan yang diikat dengan sarana kayu atau batang tebu di bagian ujungnya.

Umumnya, buah dan daun yang digunakan dalam pelaksanaan tradisi ini adalah hasil kebun yang ditanam oleh petani seperti coklat, mangga, pisang, kelapa, mete. Buah dan daun yang digunakan tersebut karena mengandung makna kesuburan. Sehingga para petani dan masyarakat dapat menikmati hasil yang sudah mereka tanam dengan jerih payah sendiri.

Tahap selanjutnya adalah matur piuning yang dimaknai sebagai pemberitahuan dan meminta izin kepada Ida Bhatara Sasuhunan di Pura Puseh Duur bahwa akan digelar tradisi Magepokan dengan tujuan untuk memeroleh keselamatan dan kerahayuan.

Setelah selesai matur piuning dilanjutkan dengan berkeliling desa satu kali yang diikuti oleh para pemuda, para pamuhit, juru tegen, dan seluruh masyarakat Desa Sembiran. Setelah berkeliling desa, semuanya berkumpul di jaba pura.

Arijaya menambahkan, yang menjadi pelaku dalam tradisi ini adalah kaum laki-laki yang sudah dibagi menjadi dua kelompok. Mereka merupakan kelompok krama desa yang pesertanya adalah masyarakat yang sudah menikah. Sedangkan pihak lawannya adalah kelompok krama truna yaitu laki-laki yang belum menikah alias bujang.

Dua kelompok tersebut yang menjadi petugas perang dengan membawa tombak yang dibuat dari bambu atau kayu bebas yang masih mentah ujungnya berbentuk runcing dan dihiasi janur. Di tengah tempat perang itu diberi sekat kayu sebagai batas untuk berperang. Setelah itu baru mereka melakukan peperangan.

“Suasananya sangat seru dan semarak. Masyarakat lain bisa menonton memberikan semangat agar acara bisa berjalan dengan lancar. Tidak boleh ada yang dendam. Astungkara selama ini berjalan dengan harmonis,” ungkapnya.

Selesai mereka berperang, juru tegen menari dengan membawa hasil bumi, seusai itu joged gandrung menari dan diiringi gambelan baleganjur, yang menarikan adalah para pamuhit dan sebagai pengibing juru tegen serta orang lain sesuai keinginan si penari. Setelah selesai menari, dua kelompok tersebut melakukan peperangan sekali lagi.

Tradisi Magepokan diyakini sebagai momentum untuk menolak bala atau marabahaya, seperti hama yang dapat merusak tanaman buah-buahan.

Arijaya menjelaskan, setelah tradisi Magepokan dilaksanakan, dilanjutkan dengan pementasan Tari Gandrung. Tarian ini memiliki taksu yang sangat kuat. Hal ini bisa diamati dari gerakan-gerakan penari yang menampakkan perasaan keindahan pada setiap gerakannya. Gerakan Tari Gandrung dicocokkan dengan gambelan pengiringnya.

“Sarana yang digunakan penari Gandrung diantaranya gelungan Gandrung yang dibuat dari janur dan dihiasi dengan bunga kamboja dipakai di kepala,” katanya.

Ada pula sarana kipas yang digunakan oleh penari Gandrung, sehingga menambah kesan suci pada tarian ini. “Hal tersebut akan menambah kekhusyukan pada saat pelaksanaan tradisi Magepokan. Selain penari gandrung, juga pangibing yang penarinya adalah juru tegen serta masyarakat yang berkeinginan untuk ngayah,” pungkasnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#desa sembiran #bali #balinese #Sukacita Petani #adat #hindu #pura #Perangi Hama #Tradisi Magepokan