Tak ada literasi maupun catatan sejarah mengenai pementasan kesenian ini, namun warga setempat pantang untuk tidak menggelar.
Perbekel Desa Dangin Puri Kauh, Ida Bagus Gede Ghana Putra Karang mengatakan, catatan sejarah mengenai pementasan Arja yang wajib saat Kuningan ini tak ditemukannya. Bahkan, sudah dicari dan ditanya kepada panglingsir di Banjar Tampak Gangsul, diakui tak ada yang tahu secara pasti. Istilah Balinya 'dapetang sube ade'.
“Sejarahnya tidak ada yang tahu baik itu catatan sejarah, prasasti, atau semacamnya. Tapi warga tidak berani untuk tidak mementaskannya. Katanya nanti bisa kebrebehan. Bahkan saat pandemi lalu arja tetap dipentaskan, meskipun tidak ada yang menonton,” ujar perbekel yang akrab disapa Gus Gana ini.
Dalam pementasannya, biasanya sewa ke sekaa Arja. Tapi mengingat ini bisa dikatakan warisan leluhur, pihak banjar ingin agar penari Arja adalah warga asli Banjar Tampak Gangsul. Dan pihak Desa Dangin Puri Kauh siap mensupport. “Kuningan nanti, rencana Arja itu dari warga asli Tampak Gangsul,” jelasnya, sembari mengatakan pementasan arja dilakukan di wantilan banjar.
Ia sedikit menceritakan pada tahun 70-80 an, Arja Tampak Gangsul begitu populer. Bahkan penonton dari luar Denpasar kala itu berbondong-bondong menyaksikannya. “Saya saksinya, dahulu saat masih kecil penonton banyak sekali. Kalau sekarang zaman sudah berkembang, Arja jarang ditonton. Tapi meskipun hanya hitungan jari yang menonton, tetap pentas,” tandasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya