Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Teks Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul Ungkap Penciptaan Alam Bali

I Komang Gede Doktrinaya • Sabtu, 3 Desember 2022 | 00:31 WIB
Penekun lontar dan prasi Gusti Bagus Mangku Dalang Sudiasta. Dok Bali Express
Penekun lontar dan prasi Gusti Bagus Mangku Dalang Sudiasta. Dok Bali Express
BULELENG, BALI EXPRESS -Ada banyak lontar yang mengulas tentang ekologi di Bali. Salah satunya Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul. Teks ini menggagas tentang nilai ekologi, khususnya lingkungan Pulau Bali dan menceritakan tentang turunnya putra dari Hyang Pasupati ke Bangsul (Bali).

Penekun lontar dan prasi, Gusti Bagus Mangku Dalang Sudiasta mengatakan, Lontar Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul merepresentasikan eksistensi alam yang harus dijaga kelestariannya oleh manusia, baik secara sosial-ekologis maupun secara spiritual.

Dalam teks ini, diceritakan tentang penciptaan alam Bali oleh Hyang Pasupati sampai pada penempatan putra-putra Hyang Pasupati pada pusat-pusat ekologi di Bali, sehingga dapat menciptakan kesejahteraan masyarakat.

“Pada naskah itu diceritakan dimana terjadi kemerosotan yang menyebabkan Bali tidak stabil. Sehingga Hyang Pasupati merasa kasihan kepada rakyat Bali, Hyang Pasupati ingin menyelesaikan permasalahan tersebut dan ingin mengembalikan keadaan di Bali seperti semula,” jelasnya.

Sebagai Dewa tertinggi, Hyang Pasupati kemudian melaksanakan yoga samadhi memohon anugrah dari Hyang Maha Pencipta agar tercipta putra-putra yang bisa ditugaskan menstabilkan pulau Bali. Yoga samadhi yang dilakukan oleh Hyang Pasupati melahirkan putra-putra yang bijaksana yang terdiri dari tiga kelompok. Yaitu Persaudaraan Sebelas Dewa, Persaudaraan Hyang Panca Tirtha, dan Persaudaraan Dewa Sad Kahyangan atau Dewa penguasa Sad Kerti.

Pemikiran tentang ekologi dalam Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul, disebutnya bisa menjadi salah satu jawaban untuk menanggulangi permasalahan lingkungan saat ini. “Secara tersurat kita diajarkan untuk memiliki sikap bakti kepada para dewata yang berstana di setiap ekosistem, masyarakat Bali diharapkan mampu menjaga, melindungi, dan melestarikan lingkungan,” ungkap Mangku Sudiasta.

Mantan pegawai UPTD Gedong Kirtya ini menceritakan, secara religius teks Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul mengisahkan dimana keenam putra Hyang Pasupati tersebar di daerah Bali. Seperti pegunungan, danau atau laut, hutan, sawah dan tempat lain yang disucikan untuk menjaga perdamaian dan pelestarian alam Pulau Bali. Sehingga mampu membawa Bali menjadi pulau yang tentram dan damai (jagadhita).

Dewa Sad Kahyangan yang tersebar di seluruh wilayah Bali menunjukkan bahwa wilayah-wilayah tersebut memiliki fungsi secara religius umat Hindu di Bali. Persebaran keenam putra dari Hyang Pasupati tersebut tampaknya terinspirasi dari konsep segara-giri (gunung-lautan) yang di mana merupakan konsep dari Siwaisme.

Dalam proses pemujaan Siwa disimbolkan sebagai lingga, dan yoni sebagai simbol dari Dewi Parwati sebagai sakti dari Dewa Siwa. Lingga dan yoni termanifestasikan seperti gunung dan lautan (danau). Pertemuan keduanya dapat melahirkan kehidupan, kedamaian dan kesejahteraan.

Teks Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul berperan sebagai sarana pengakuan atas paham siwaisme di Bali. Hal ini terlihat dari adanya tokoh utama dalam cerita Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul, yakni Hyang Pasupati sebagai cikal bakal dari kelahiran Dewa Sad Kahyangan.

“Penempatan para dewata pada lingkungan alam Bali berdampak pada terjalinnya hubungan baik antara manusia dengan Tuhan dan menjadikan masyarakat Bali harus tetap menjaga kelestarian alam sekitarnya,” sebutnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bali #Teks Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul #balinese #adat #hindu #pura #Penekun lontar dan prasi #Penciptaan Alam Bali #tradisi #Gusti Bagus Mangku Dalang Sudiasta #sad kerti