Penekun lontar dan prasi, Gusti Bagus Mangku Dalang Sudiasta mengatakan, Sad Kerti dimaknai sebagai enam perilaku yang diwujudkan dalam membangun lingkungan atau jagat. Ada enam konsep yang harus diciptakan berkaitan dengan hidup alam maupun lingkungan dan juga lingkup manusia, baik di kedudukan yang merupakan makhluk individual dan sosial.
Sebut saja dalam Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul sargah III. Hal ini mengisahkan Hyang Pasupati melakukan yoga samadhi sehingga melahirkan enam putra. Enam putra tersebut, yaitu Sang Hyang Jayamurti, Sang Hyang Jayanatra, Sang Hyang Sandijaya (Sang Hyang Jayasandi), Sang Hyang Jayakreta, Sang Hyang Jayasadana, dan Sang Hyang Sri Jayadana (Sang Hyang Dhanajaya).
Enam kekuasaan dari tokoh-tokoh tersebutlah membentuk secara tidak langsung sistem kelestarian lingkungan yang disebut Sad Kerti, yaitu Girikrti, Wanakrti, Sagarakrti, Ranukrti, Swikrti, dan Jagatkrti.
Girikrti (gunung) dikuasai oleh Sang Hyang Jayamurti, Wanakrti (hutan) dikuasai oleh Sang Hyang Jayanatra, Sagarakrti (laut) dikuasai oleh Sang Hyang Sandijaya, Ranukrti (danu) dikuasai oleh Sang Hyang Jayakreta, Swikrti (sawah) yang dikuasai oleh Sang Hyang Jayasadana, dan Jagatkrti dikuasai oleh Sang Hyang Sri Jayadana.
Semua akan melakukan semua yang pada suatu daerah yang disebarkan di wilayah Bali. Termasuk menyucikan gunung, laut, serta wilayah lain yang dianggap mempunyai kesucian.
Secara ekologis Sad Kerti merupakan upaya konservasi terhadap kelestarian alam yang berakar dari kesadaran manusia terhadap alam sebagai tempat tinggalnya.
Segala kebutuhan telah disediakan oleh alam. Manusia wajib memanfaatkannya secara berkelanjutan. Sad Kerti merupakan bukti kesadaran ekologis masyarakat Bali terhadap lingkungan. Gunung, hutan, laut, dan danau merupakan simpul ekologi yang memiliki peran global dalam kelangsungan hidup manusia.
Pegunungan dan hutan diakui sebagai daerah resapan air. Gunung dan hutan berperan dalam menyerap air hujan pada saat musim hujan, kemudian memunculkannya sebagai mata air yang mengalir sepanjang musim. Mata air biasanya muncul di kaki gunung yang masih terjaga kelestariannya.
Mata air tersebut membentuk sungai yang mengalir ke hilir. Sungai menjadi sumber irigasi untuk menunjang pertanian sebagai penghasil pangan bagi masyarakat. Selain diserap oleh hutan, air hujan juga ditampung oleh danau.
Keempat danau di Bali ini merupakan penampung air hujan alami yang tidak pernah kering. Air di keempat danau telah memberikan kontribusi penting bagi kehidupan pertanian masyarakat.
Air danau juga banyak dipercaya menimbulkan mata air yang mengalir ke sungai. Danau dan laut memiliki kekayaan yang tak terbatas. Ekosistem yang terbentuk di laut mendukung kehidupan berbagai jenis ikan dan hewan lainnya yang merupakan sumber makanan dan pendapatan bagi masyarakat. “Kondisi ini memaksa masyarakat untuk menjaga kelestariannya. Ketika pusat-pusat ekologi ini terganggu, tentu dapat berdampak pada kehidupan manusia,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya