Dosen Upakara STAHN Mpu Kuturan, Wayan Murniti mengatakan, Lontar Dharma Kahuripan masih relevan pada era kekinian. Ritual Manusa Yadnya yang diulas dalam lontar tersebut, diantaranya upacara pawiwahan, Magedong-gedongan, bayi berusia satu bulan tujuh hari, Bajang Colong atau tigang sasih, Otonan, hingga Menek Bajang.
Sarana upakara atau banten dalam upacara Manusa Yadnya yang digunakan, disesuaikan dengan daerah setempat yang disebut dengan loka dresta. Baik dari tingkatan alit, madya, dan utama. Sebut saja upacara Bajang Colong atau nigang sasihin.
Ritual ini bertujuan untuk memohon keselamatan bagi sang bayi atau menghilangkan kesebelan atau cuntaka (kekotoran secara niskala). Selain itu, agar si ibu telah dapat dan diperbolehkan ke luar rumah untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari. Mulai dari melakukan ritual persembahyangan dan atau melaksanakan tugas kewajiban bilamana si ibu bekerja di luar rumah.
Disebutkannya, ada beragam sarana upakara yang digunakan. Seperti banten dapetan, panyeneng, jejanganan, suci, dandanan, canang sari, canang raka dan canang wangi. Semua sarana ini ditujukan kepada Dewa Kumara.
Selain itu, ada pula sarana yang digunakan saat tigang sasih. Seperti banten panyeneng, panyambutan, jejanganan, panebusan, jerimpen, kurenan, tulungurip, pakekeh, bebangkit, pangiring, tutwan, sayut agung, pulo gembal, sekar taman, suci, sorohan, dan gelarsanga.
“Mengenai jalannya upacara adalah matur piuning ring Kamulan Taksu, bahwa akan diselenggarakan upacara Bajang Colong lan tigang sasih. Upacara di dapur, dengan maksud memohon waranugraha dan pangelukatan Brahma,” katanya.
Prosesi upacara juga dilakukan di sumur. Namun, sama halnya dengan sarana sebelumnya, yaitu memohonkan waranugraha dan pengelukatan Wisnu. Rangkaian pertama pangawit, panyaksi ke hadapan Surya lan Pretiwi, ngelis banten lan matepung tawar, ngayab byakaon, nunas panugrahan lan pangelukatan Kamulan Taksu, matekep guungan lan panebus rare, ngayab Bajang Colong. Diakhiri dengan muspa lan nunas wangsuhpada.
Begitu pula upacara di natar atau halaman rumah. Dudonannya diawali dengan ngalukat prantos tigang sasihan. Prantos dimaksud berupa kelapa yang ada di soksokan, berisi uang kepeng satakan mabenang sedate, sebagai lambang talin banah dan dibawa oleh ayah si bayi.
Uniknya, saat tigang sasih dilaksanakan, tentu tidak akan lepas dari penggunaan sarana pusuh (jantung) pisang. Sarana ini biasanya dibawa oleh ibu dari si bayi. Diyakini sebagai simbol papusuh linggan Sang Banaspati.
Tidak ketinggalan juga ragam perhiasan juga digunakan saat upacara tigang sasihin. Seperti gelang, anting-anting, kalung yang dipegang oleh sang bayi. Termasuk penggunaan sarana papah kelapa. Sarana ini juga sangat dibutuhkan saat upacara tigang sasihin. Sarana ini berisi gambar tatorekan manusia, yang ditulis atau ditorek dengan menggunakan pamor sedah.
Sarana ini diyakini sebagai bajang papah yang kemudian merupakan linggan Sang Anggapati, perlu dipegang oleh seorang anak- anak.
Reregek, ulat-ulatan don nyuh menyerupai janmajanmaan digunakan sebagai bajang reregek, dan simbol linggan Sang Banaspati, dan dipegang oleh anak-anak.
Ayam betina dan jantan, digunakan Bajang Colong. “Sarana ini dipegang oleh anak-anak, sebagai linggan Sang Prajapati. Bayi yang dibuatkan tigang sasihin, agar diemban gadis yang sudah remaja. Prantos yang lainnya ada, semprong, rerontek dan dipegang oleh anak anak,” ungkapnya.
Bayi Tidak Lagi Cuntaka
Rangkaian lain dari upacara tigang sasih, yaitu memandikan si bayi dan mengganti pakaiannya selanjutnya dilakukan ngayab teenan, ngayab tetebus, ngayab sesarik, mekekenyepan, ngayab peras.
Kemudian nyiraman rare, mabajang colong, rare tuwun tanah, puja ngelinderin lesung, puja ngelinderin taman, ngamolihang gelang kalung dan terakhir dilakukan pangelebar Bajang Colong.
Dikatakan Wayan Murniti, natab banten tigang sasih di bale-bale, pelaksanaannya dilakukan dengan beberapa rangkaian, yaitu nyiratang tirta, nyuciang lan ngastawa upakara (teenan, tetebus, sesarik), ngayaban upakara, pengulapan.
Selanjutnya pangambean, jejanganan agung, sodan, punjung miwah penek, banten kumara-kumari (pelangkiran), banten guru piduka (kalau ada), banten sambutan lan sesayut, natab linting pengelepas awon, melelaban sebagai penutup dilakukan muspa dan nunas wasuhpada.
“Mulai saat ini anak tidak lagi sebagai bayi, namun telah mempunyai nama pemberian orang tuanya. Di samping itu anak telah mengadakan hubungan dengan 'dunia luar' dan serta kekuatan alam,” katanya.
Jika mengacu dalam Tattwa Hindu, anak itu dijaga oleh saudara empatnya. “Secara mendalam (batin) dijelaskan bahwa Sang Anggapati ada di mata, Sang Prajapati di hidung, Sang Banaspati ada di telinga dan Sang Banaspati Raja ada di lidah,” tuutpnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya