Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ritual Pelengkap Tiga Bulanan, Ini Beda Tualen Bali Utara dengan Selatan

I Komang Gede Doktrinaya • Selasa, 13 Desember 2022 | 23:03 WIB
BEDA: Tokoh  punakawan Tualen Bali Selatan (kiri) dan Tualen Bali Utara atau Buleleng (kanan). Wayang Tualen Buleleng yang gundul dijadikan sebagai lakon potong rambut untuk ritual upacara tiga Bulanan di Buleleng. Istimewa
BEDA: Tokoh punakawan Tualen Bali Selatan (kiri) dan Tualen Bali Utara atau Buleleng (kanan). Wayang Tualen Buleleng yang gundul dijadikan sebagai lakon potong rambut untuk ritual upacara tiga Bulanan di Buleleng. Istimewa
BULELENG, BALI EXPRESS -Upacara tiga bulanan bayi di Buleleng, biasanya diisi dengan pementasan wayang. Dalang biasanya menggunakan lakon Tualen Magundul. Seperti apa tradisi yang hanya ditemukan di Buleleng ini ?

Jro Dalang Putu Ardiyasa menjelaskan, di Bali dikenal ada dua karakteristik wayang kulit berdasarkan wilayah asalnya, yaitu wayang kulit Bali Utara dan wayang kulit Bali Selatan.

Photo
Photo
Jro Dalang Putu Ardiyasa. Dok Bali Express

Bali Utara yang dimaksud adalah wilayah Kabupaten Buleleng, sementara Bali Selatan meliputi wilayah Kabupaten Badung, Gianyar, Tabanan, Klungkung, Karangasem, dan Jembrana. Secara umum, penggambaran bentuk dari tokoh punakawan wayang kulit Bali di daerah Utara dan Selatan adalah sama. Perbedaan yang signifikan terletak pada tampilan tokoh punakawan Tualen.

Tokoh Tualen di Bali Utara memiliki bentuk tubuh besar atau gemuk dengan warna kulit hitam, berkepala plontos, sedangkan penggambaran tokoh Tualen Bali Selatan juga hampir sama dengan penggambaran Bali Utara, memiliki fisik besar atau gemuk, dengan kulit hitam. Namun untuk bagian kepalanya, Tualen di Bali Selatan identik dengan memiliki kuncir dan memakai ikat kepala. Berbeda dengan di Buleleng, digambarkan dengan sosok gundul atau plontos. Tanpa memiliki rambut atau jambot.

Tak sekadar seni, perbedaan penggambaran fisik tersebut ada latar belakangnya. Mengingat di antara tokoh pewayangan, punakawan Tualen memiliki peran yang sangat vital. Tualen disimbolkan sebagai pengayom dari semua hal-hal yang sejalan dengan ajaran kebenaran (Dharma).

Dikatakan Jro Ardiyasa, Tualen berbentuk tubuh manusia biasa. Untuk menambah kesan hidup pada wayang, maka dibuatkan bentuk badannya dibuat terlihat dari tampak samping, tangannya dilepas kemudian persendian lengan dan bahu diberi sengki tanduk (alat penyambung).

Demikian juga hubungan siku dengan lengan diberi sengki tanduk. Kedua tangan yang dilepas dan dipasang dengan cara tersebut dimaksudkan agar tangan mudah digerakkan. Sama seperti figur wayang kulit punakawan lainnya, rahang pada mulut wayang punakawan dilepas diberi sengki tanduk dan diuntai dengan pecuntil yang terbuat dari tanduk sapi yang berbentuk silinder.

Ukuran fisik wayang kulit punakawan Tualen Bali Utara secara umum memiliki ukuran relatif sama dengan  Bali Selatan. Sama-sama digambarkan sebagai orang tua yang berbadan besar dengan perut buncit, namun Tualen Bali Selatan tampak agak lebih langsing.

Tualen Bali Selatan memiliki hiasan atau ornamen yang lebih banyak dibandingkan Tualen Bali Utara. Hal ini dikarenakan memiliki bentuk kepala yang menggunakan udeng dan berisi kuncir.

Di sini diceritakan setelah Tualen diasingkan dari Swargaloka, Sang Hyang Semar mengembara untuk menemukan tempat mengabdi di jalan kebenaran. Di tengah pengembaraan, Sang Hyang Semar melihat ada seorang ibu dan anaknya dalam bahaya karena akan diserang oleh seekor macan. Ibu dan anak itu adalah Dewi Kunti dan anaknya Bima yang masih bayi.

Sang Hyang Semar kemudian menyelamatkan si Bima yang hampir dimangsa, macan itu dibunuh. Setelah kejadian tersebut datang Pandu yang merupakan ayahnya Bima. Pandu mengucapkan terima kasih kepada Sang Hyang Semar. Pandu mengajak Sang Hyang Semar tinggal di kerajaannya, yaitu Kerajaan Astina.

Sang Hyang Semar juga dijanjikan bahwa akan dibuatkan upacara otonan lengkap dengan ngetep jambot (potong rambut). Lewat upacara tersebut nama Sang Hyang Semar diganti menjadi Tualen. Upacara itu dilakukan bersamaan dengan otonan Bima.

“Dan hingga saat ini tradisi ngetep jambot masih dilakukan oleh masyarakat Buleleng, ketika anak memasuki usia 3 bulan. Figur Tualen tidak memiliki rambut pada kepala dan sekujur tubuhnya,” jelasnya.

Secara mitologi Tualen Bali Utara saat masih bernama Sang Hyang Ismaya, terbakar api Sang Hyang Siwa. Kejadian itu mengakibatkan sekujur tubuhnya hangus. Seluruh rambut di sekujur tubuhnya habis. “Oleh karena itu Tualen Bali Utara memiliki penampilan hitam dengan kepala gundulnya, hingga menyebabkan tampilan Tualen Bali Utara berbeda dengan Tualen Bali Selatan,” imbuh Jro Dalang Putu Ardiyasa.

Tualen magundul adalah kisah Bhatara Ismaya turun ke dunia, dan menghilangkan unsur kedewaannya. Tualen memotong rambut untuk pamahayu jagat.

Konsep magundul secara filosofis, Tualen artinya melepas keduniawian, dan menahan nafsu indria. “Tokoh Tualen dianggap sangat penting, karena selain sebagai Ismaya, Tualen juga adalah perwujudan dari parama siwa,” tutupnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bali #Ritual Tiga Bulanan #balinese #adat #hindu #Ini Beda Tualen Bali Utara dengan Selatan #pura #tradisi