Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sucikan Perbuatan, Dewa Iswara & Mahesora Siapkan Sekah Kuning

I Komang Gede Doktrinaya • Sabtu, 17 Desember 2022 | 17:26 WIB
LONTAR : Ketua PHDI Kecamatan Buleleng Nyoman Suardika dan Lontar Siwa Tattwa Purana
LONTAR : Ketua PHDI Kecamatan Buleleng Nyoman Suardika dan Lontar Siwa Tattwa Purana
BULELENG, BALI EXPRESS -Menurut penjelasan Lontar Siwa Tattwa Purana, setelah upacara Atiwa-tiwa dilanjutkan dengan prosesi Nyekah. Nyekah dilakukan dengan membuat Sekah. Sekah itu terbuat dari bambu yang dibungkus dengan daun beringin dan dihiasi bunga.

Ketua PHDI Kecamatan Buleleng Nyoman Suardika menceritakan, Sekah itu kemudian dihanyut ke dalam air besar. Air besar yang dimaksud kemungkinan adalah lautan. Jadi ke laut-lah sekah itu dihanyutkan. Demikian ucapan Sang Hyang Rudra dan Mahadewa, dan sekaligus menandakan bahwa Nyekah adalah tugas Rudra dan Mahadewa. Sekah itu pun dilengkapi lagi oleh Hyang Iswara dan Mahesora.

“Hyang Iswara dan Mahesora bertugas menyiapkan sekah kuning. Sekah kuning ini digunakan untuk menyucikan perbuatan atau anyuci laksana. Sang Hyang Gaṇa dan Sang Hyang Uma, berbeda lagi tugasnya,” kata seniman topeng Sidakarya ini.

Tugas kedua dewa ini adalah membuat bukur. Selain Sang Hyang Gana dan Uma, ada beberapa lagi tugas para dewa lainnya, diantaranya Dewa Indra dan Samara, Sang Hyang Bhayu, Sang Hyang Bharuna, Sang Hyang Kala dan Sang Hyang Surya.

Tugas yang dimiliki oleh para dewa berkaitan dengan upacara kematian. Sang Hyang Gana dan Sang Hyang Uma bertugas membuat bukur. Bukur adalah nama banten, sedangkan upacara yang menggunakan banten Bukur disebut Mamukur.

Jika runtutan upacara itu dibayangkan bertingkat-tingkat, mulai dari Atiwa-tiwa sampai angluwer, maka diartikan sebagai perjalanan menanjak. Perjalanan itu menghasilkan penyebutan yang berbeda, mulai dari Dewa Pitra dampai Acintya Pramanaya Pitra.

“Dewa Pitra berarti leluhur yang dianggap setara dengan dewa. Acintya Pramanaya Pitra berarti leluhur yang telah menyatu dengan yang tidak terpikirkan,” tutupnya.
 
Photo
Photo
Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#Reka Lingga tanpa Jasad #bali #balinese #Atiwa-tiwa #ngaben #hindu #Nyekah #lontar Siwa Tattwa Purana