Acara ini merupakan peringatan 1.000 tahun Prasasti Baturan, bertempat di Panggung Purbakala, sisi kauh Pura Desa Puseh Batuan, Kecamatan Sukawati, Gianyar pada Minggu (18/12) sore.
Menurut Cok Ace, momentum 1000 tahun prasasti Baturan dikemas dalam tema besar Saharsa Warsa Batuan. Ini merupakan titik balik bagi masyarakat Batuan secara bersama-sama untuk kembali kepada jati diri sebagai bagian dari masyarakat yang hidup berkebudayaan.
Tokoh Puri Ubud tersebut berharap agar Saharsa Warsa Batuan ini dapat menjadi media promosi pariwisata Bali. Dengan tetap menjaga warisan budaya Prasasti Baturan, yang kemudian dikemas menjadi wisata budaya.
“Saya harap kegiatan ini bisa menginspirasi desa-desa lainnya dalam berinovasi dan menumbuhkan serta mengembangkan pariwisata Bali yang berbasis adat, tradisi, seni, budaya dan kearifan lokal,” jelasnya.
Dikatakannya, hal ini sangat sesuai dengan visi Pemerintah Provinsi Bali, Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui pola pembangunan semesta berencana menuju Bali Era Baru. Visi menuju Bali Era Baru diwujudkan dengan menata secara fundamental dan komprehensif pembangunan Bali yang mencakup tiga aspek utama, yaitu alam, krama dan kebudayaan Bali. “Dengan diselenggarakannya acara ini mencerminkan salah satu perpaduan manusia dalam menjaga kebudayaan Bali. Untuk itu mari kita jaga bersama sebagai jati diri kita,” tandasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Perbekel Desa Batuan Ari Anggara menjelaskan, hari tersebut adalah momentum bersejarah bagi masyarakat Batuan. Tidak setiap generasi bisa menyaksikan milenium Desa Batuan, yaitu 1.000 tahun ditulisnya Prasasti Baturan di Batuan.
Ia menjelaskan isi prasasti menjelaskan tentang potensi di Desa Batuan. “Semua jenis kerajinan, seni dan kearifan lokal asli Batuan tertulis di prasasti tersebut,” sebutnya, seraya mengatakan pihaknya tentu akan terus menjaga warisan budaya tersebut.
Ia menambahkan bahwa acara Saharsa Warsa Batuan akan digelar selama sembilan hingga puncak acaranya, 26 Desember nanti.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya