Untuk Januari dan Februari, dikatakan pensiunan Dinas PUPR Kabupaten Buleleng ini, tidak ada padewasan. Pertimbangannya adalah sasih. Selain itu, tidak ada padewasan yang sesuai dengan wewaran, pawukon, tanggal, dauh.
Pada Januari kondisinya juga belum berakhir Uncal Balung karena ada Hari Raya Galungan dan Kuningan.
Lanjut pada Maret, yang merupakan Sasih Kadasa, ia menyebut hanya ada pada tanggal 23 dan 24 Maret. “Cuma pertimbangan teknisnya, karena masih suasana Hari Raya Nyepi, sehingga tentu ini juga menjadi catatan bagi sang yajamana,” katanya.
Sedangkan pada April, Mei, Juni, Juli, Agustus, dan September, dewasa nganten juga nihil. Sebab ada larangan sasih. Namun pada Oktober bisa dilaksanakan tanggal 16 dan 19.
Selanjutnya pada November, padewasan pawiwahan ditegaskannya tidak ada. Pada akhir tahun 2023, upacara pawiwahan bisa dilaksanakan pada 18 dan 22 Desember.
Terlepas dari tanggal yang direkomendasikan itu, Marayana menegaskan bahwa tradisi padewasan di Bali tidak kaku, bisa diberlakukan secara luwes sesuai dengan kepentingan yang lebih besar.
Selain itu, umat Hindu juga bisa menyempurnakan padewasaannya dengan banten pamarisudha atau Carun Dewasa. “Nanti akan menyesuaikan jika ada hal-hal yang sifatnya sangat mendesak. Kembali ke iksa (tujuan), sakti (kemampuan), desa (aturan setempat), dan kala (waktu),” tutupnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya