Aktivitas ritual masyarakat Suku Tengger ini erat kaitannya dengan Pura Luhur Poten Bromo. Pura yang berlokasi di hamparan lautan pasir di Taman Nasional Bromo ini menjadi pusat ritual saat upacara Kasada.
Bali Express (Jawa Pos Group) menyempatkan diri untuk tangkil di Pura Luhur Poten Bromo, Rabu (28/12) lalu. Untuk menjangkau lokasi ini bisa melalui kawasan Probolinggo atau sisi utara Gunung Bromo.
Kondisi jalan tergolong bagus, hanya sempit saat memasuki kawasan Bromo. Jadi, harus mengurangi laju kendaraan saat berpapasan dengan kendaraan roda empat lainnya. Namun akan disuguhkan hamparan kebun sayur milik masyarakat setempat.
Jejeran pohon cemara tumbuh di kawasan pegunungan kian paripurna melukiskan indahnya sepanjang perjalanan.
Saat mulai mendekati kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), penjaga dari pengelola kawasan ini siap memeriksa setiap pengunjung yang datang.
Jika wisatawan, maka akan dikenakan tiket masuk. Namun, bila hendak melakukan persembahyangan dengan menggunakan pakaian adat sembahyang, sudah pasti akan diberikan akses masuk secara gratis.
Pemandangan yang indah tersaji di depan mata begitu kendaraan melewati jalan menurun yang curam. Lanskap pegunungan TNBTS yang membentang puluhan ribu hektare ini memanjakan pandangan wisatawan. Ratusan wisatawan tampak menyemut memadati areal lautan pasir. Ada yang sekadar berswafoto, berkuda ada pula yang sengaja mendaki untuk mendapatkan spot terbaik dan menikmati indahnya pemandangan kawah Bromo.
Di tengah luasnya hamparan lautan pasir Bromo yang berwarna hitam pekat ini, terdapat Pura Luhur Poten yang berdiri begitu anggun dan kokoh. Vibrasi spiritual begitu terpancar dari pura yang posisinya di kaki Gunung Bromo ini.
Tiupan angin yang menderu kencang sembari membawa butiran pasir halus beterbangan seolah menjadi salam hangat bagi para pamedek yang melangkahkan kakinya menuju Pura Luhur Poten ini.
Hampir sama dengan pura pada umumnya. Secara struktur, pura ini terbagi menjadi tiga mandala, dengan ukuran yang tergolong beragam. Untuk areal nista mandala, luasnya sekitar 30x 30 meter. Kemudian madya mandala sekitar 40x40 meter. Sedangkan pada bagian utama mandala ukurannya lebih luas, sekitar 50x50 meter.
Begitu kaki melangkah ke utama mandala, koran ini disambut hangat oleh Romo Mangku Sugiano. Pria berusia 52 tahun ini memang sudah sejak 31 tahun ngayah di Pura Luhur Poten Bromo. Bahkan persis sejak pura ini mulai dibangun, yaitu pada tahun 1991 silam.
Romo Mangku Sugiano adalah satu dari enam pamangku yang memang secara bergilir melayani pamedek yang nangkil sembari berwisata ke Bromo. Usai sembahyang dan nganteb sesajen ia pun dengan ramah bercerita tentang perjalanan panjang dibangunnya Pura Luhur Poten Bromo.
Diceritakan Mangku Sugiano, berdirinya pura ini tidak lepas dari peran Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang pada tahun 1991 itu Gubernurnya dijabat oleh Suharso. Ia mengadakan pasamuhan dengan tokoh Hindu yang ada di kawasan Tengger meliputi empat wilayah. Yakni Lumajang, Malang, Pasuruan dan Probolinggo.
Tekad kian bulat untuk mewujudkan tempat ibadah yang representatif bagi masyarakat Suku Tengger hingga akhirnya terbentuklah panitia pembangunan pura. “Jadi pada waktu itu disepakati namanya Pura Luhur Poten Bromo. Poten berasal dari kata putih. Nah proses renovasi itu dapat dana hibah sebesar Rp 1 miliar. Akhirnya terbentuklah pura dengan konsep tri mandala,” kata Romo Mangku.
Arsitektur pembangunan pura ini pun tetap mengadopsi karakter Jawa Timur yang kerap disebut Bangunan Brawijaya. Meski demikian, tetap dikombinasikan dengan menggunakan arsitektur Bali. Ia menceritakan, dipilihnya titik lokasi sebagai tempat berdirinya Pura Luhur Poten Bromo bukanlah tanpa pertimbangan. Karena memang ada leluhur di lokasi itu, kabuyutannya Kaki Buyut Pranoto yang sangat dihormati bagi masyarakat Tengger.
“Beliau yang Jumeneng (berstana) di sini. Makanya dibentuklah Sanggar Poten. Posisinya di sebelah padmasana,” katanya, sembari menunjuk sebuah areal yang dibatasi panyengker sebagai stananya Kaki Buyut Pranoto di areal utama mandala.
Di areal utama mandala, disebutkan bahwa yang berstana di Padmasana ini diyakini sebagai perwujudan dari Tri Murti. Yakni Dewa Brahma, Wisnu, dan Dewa Siwa. Selain itu ada pula Palinggih Panglurah, patung Dewa Brahma dan Dewi Saraswati. Editor : I Komang Gede Doktrinaya