Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lamak Galungan Simbol Tri Bhuana 

I Komang Gede Doktrinaya • Selasa, 3 Januari 2023 | 14:59 WIB
LAMAK : Lamak menjadi salah satu sarana saat Galungan. Ist
LAMAK : Lamak menjadi salah satu sarana saat Galungan. Ist
BULELENG, BALI EXPRESS -Lamak menjadi salah satu sarana yang digunakan saat Galungan. Umumnya dipasang di setiap palinggih, menjadi satu dengan gantung-gantungan. Namun ada juga yang tidak menggunakan lamak.

Ketua PHDI Kecamatan Buleleng Nyoman Suardika mengatakan, lamak mengandung simbol tiga alam atau Tri Bhuana. Tri Bhuana itu terdiri dari alam bhur (bawah) seperti tanah atau pertiwi. Kemudian bwah (tengah), yang terdiri dari Eka Pramana (tumbuhan), Dwi Pramana (binatang), dan Tri Pramana (manusia atau cili). Bagian Tri Bhuana selanjutnya adalah swah (atas) seperti matahari, bulan dan bintang.

Dalam lamak, Tri Bhuana itu diaplikasikan dalam bentuk jejahitan dan reringgitan. Tri Bhuana itu wajib dihadirkan dalam lamak. “Jejaitan lamak memiliki fungsi ganda. Lamak berfungsi sebagai simbol stana Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena jejahitan lamak ini dibuat penuh dengan makna yang diwujudkan berupa simbol-simbol kehidupan yang ada di alam semesta,” jelasnya.

Nyoman Suardika mengatakan, jika merujuk Lontar Tutur Rare Angon, terdapat tiga jenis lamak di Bali. Hal ini sesuai dengan tata cara pemasangannya. Tiga jenis lamak tersebut adalah Lamak Terujungan yang biasanya dipasang di lebuh atau halaman depan rumah, ketika pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya atau tawur.

Selanjutnya Lamak kecil yang biasa digunakan pada beberapa palinggih, seperti apit lawang dan tugu. Kemudian lamak besar yang biasa dipasang di palinggih besar, seperti padmasana, gedong dan lain sebagainya.

Penggambaran simbol-simbol bhuana agung dan bhuana alit pada lamak ditandai dengan ornamen-ornamen yang diadopsi dari bentuk bulan, bintang, matahari, cili-cilian dan lain-lain. Ia menambahkan ada beragam jenis lamak jika merujuk berdasarkan ornament atau hiasannya. Seperti ornamen matahari merupakan ornamen yang menempati bagian paling atas Lamak. Memiliki bentuk seperti matahari yang memancarkan kilauan cahaya.

Terdapat tambahan warna merah muda dan hijau semakin menambah nilai estetis Lamak. Ornamen ini memberi makna simbolis yakni Surya atau Sang Pencipta dan penguasa alam semesta. Tuhan adalah maha tinggi yang diasosiasikan dengan cahaya.

“Pancaran cahaya memberikan warna pelangi, memberi napas kehidupan, penguasa ruang, memberi spirit. Matahari sebagai lambang kebaikan yang menguasai langit dan bumi, menopang seluruh kehidupan dan mengontrol alam, manusia dan semesta,” ungkapnya.

Kemudian ornamen cili-cilian yang tampilannya terkesan sangat sederhana. Cili-cilian ini adalah sebagai permohonan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar senantiasa dianugerahkan kerahayuan dan keselamatan, baik Bhuana Agung maupun Bhuana Alit agar kehidupan di bumi bisa terus berjalan harmonis.

Ada pula Lamak dengan ornamen bulan dan bintang. Dalam kepercayaan umat Hindu dimaknai sebagai keindahan, menghaturkan syukur kepada Tuhan karena sudah memberikan sinar yang indah dari kegelapan.

Ada pula ornamen gunung menempati pada bagian teratas. Ornamen ini dimaknai sebagai kesucian dan kesuburan, sebagai umat wajib menghaturkan syukur karena sudah begitu banyak dan hasil berlimpah yang dianugerahkan oleh Tuhan.

Ornamen Lamak yang menempati letak paling bawah adalah tumbuh-tumbuhan. Maknanya sebagai lambang alam dengan keberadaannya yang subur menghasilkan buah, bunga-bunga mekar dan indah ciptaan Tuhan dengan segala manifestasinya.

“Lamak motif bunga dalam kepercayaan umat Hindu dimaknai sebagai keindahan, ikhlas, tulus, suci, hening, dan indah. Dalam kegiatan religi umat Hindu menggunakannya sebagai sesajen maupun sebagai media persembahyangan,” ungkapnya

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bali #Lamak #balinese #adat #Ketua PHDI Kecamatan Buleleng #hindu #pura #Simbol Tri Bhuana #Nyoman Suardika