Meski minim peserta, mereka mencoba menghadirkan sebuah tapsir visual dalam sebuah karya seni prasi yang mulanya merupakan sebuah karya ilustrasi dari sebuah teks seni tradisi.
Lomba yang diikuti 11 peserta itu juga menjadi daya tarik bagi pengunjung BBB ke-5. Pengunjung yang didominasi anak-anak muda itu, sesekali melirik hasil karya yang dibuat di atas dulang oleh para peserta.
Tiga dewan juri dilibatkan dalam ajang ini, yakni Drs. I Made Suparta, M.Hum, I Wayan Trisnayana dan I Made Susanta Dwitanaya.
Dwitanaya mengatakan, lomba prasi kali ini mengambil tema tentang laut. Para peserta diajak menginterpretasi cerita tentang Samudra Montana yang diambil dari teks Adiparwa, tentang pengadukan Ksirarnawa atau lautan susu untuk mencari Tirta Amerta.
“Masing-masing peserta menggambar penggalan atau iterpretasi atas kisah naratif tersebut ke dalam selembar daun lontar. Hal itu memang tidak mudah,” ucapnya.
Dalam pembuatan karya prasi, ada tantangannya. Misalnya kepiawaian menggoreskan pangrupak di atas daun lontar yang memiliki serat dan karakter tersendiri. Medianya juga menjadi tantangan, karena membuat gambar di atas bidang kecil, yakni daun lontar dengan panjang 30 cm dan lebar sekitar 4 cm.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya