Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Unik Paksebali, Lukat Geni Gunakan Api Danyuh, Wajib Puasa Empat Hari

I Komang Gede Doktrinaya • Jumat, 10 Februari 2023 | 18:59 WIB
API DANYUH: Lukat Geni di Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Klungkung menggunakan sarana utama api danyuh. Ist
API DANYUH: Lukat Geni di Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Klungkung menggunakan sarana utama api danyuh. Ist

TIDAK seperti proses malukat pada umumnya yang menggunakan sarana air sebagai sarana utama, tradisi Lukat Geni ini menggunakan api sebagai sarana utama dalam melaksanakan proses memalukat.


KLUNGKUNG, BALI EXPRESS -Umumnya, malukat (ritual pembersihan) menggunakan air sebagai sarana utama penyucian. Namun di Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Klungkung, berbeda dengan yang biasa dilaksanakan. Ada namanya tradisi Lukat Geni sebagai sarana penyucian jelang Hari Raya Nyepi.

Tokoh Puri Satria Kawan, Desa Paksebali AA Gde Agung Rimawan mengatakan Lukat Geni juga lazim disebut dengan perang api. Secara etimologi, Lukat Geni berasal dari kata, lukat atau malukat yang artinya membersihkan dari kotoran lahir dan batin. Sedangkan geni berarti api.

“Tidak seperti proses malukat pada umumnya yang menggunakan sarana air sebagai sarana utama, tradisi Lukat Geni ini menggunakan sarana api sebagai sarana utama dalam melaksanakan proses malukat,” ungkap Agung Rimawan.

Tradisi Lukat Geni diyakini sebagai warisan budaya yang bersifat sakral. Munculnya tradisi ini, konon bermula dari permainan rakyat yang telah lama dilaksanakan oleh warga Puri Satria Kawan, sehingga menjadi sebuah tradisi yang turun-temurun dilaksanakan di sana.

Ada alasan menarik di balik dilaksanakannya tradisi itu. Masyarakat desa setempat meyakini tradisi itu mengandung nilai magis dan dianggap sakral. Sehingga harus dilaksanakan setiap tahun pada saat Pangerupukan atau sehari sebelum Nyepi, dengan harapan para bhuta tidak mengganggu kehidupan manusia. “Dianggap masuk dalam kategori seni sakral karena pelaksanaan tradisi ini dilaksanakan pada saat Pangerupukan di Catus Pata,” imbuhnya.

Tradisi Lukat Geni yang dilaksanakan oleh warga Puri Satria Kawan rutin dilaksanakan pada Pangerupukan menyambut pergantian Tahun Baru Caka. Tepatnya pada saat Pangerupukan pada tileming Sasih Kasanga, panglong 14, yaitu pada saat matahari mulai terbenam (sandikala).

Disinggung terkait persiapan pelaksanaan tradisi itu,  Agung Rimawan menyebut bahwa ritual tersebut dimulai sejak dua hari sebelum Pangerupukan dan pada hari pelaksanaan, tahapannya dimulai sejak pagi hari hingga malam hari.

Lukat Geni diyakini sebagai bentuk pembersihan diri, di mana sarana yang digunakan adalah api sebagai simbol Brahma. Api tersebut berasal dari daun kelapa yang sudah dikeringkan, di Bali dikenal dengan danyuh.

Sarana danyuh sejumlah 36 lembar dan 33 obor yang digunakan saat tradisi berlangsung. Jumlah yang digunakan tersebut sesuai dengan penjuru arah mata angin atau Dewata Nawa Sanga. Selama pelaksanaanya juga diiringi dengan gambelan gong.

Penggunaan sarana api sebagai pembersihan diri ini diyakini oleh warga Puri Satria Kawan sebagai pembasmi kekotoran dan mengusir atau menghilangkan hal-hal negatif yang ada dalam diri maupun lingkungan. Sarana banten yang digunakan dalam rangkaian pelaksanaan tradisi ini adalah banten prayascita, pajati bang, canang sari.

Banten prayascita merupakan banten yang biasa digunakan untuk melakukan pembersihan diri. Pelaksanaan tradisi ini diawali dengan brata. Brata (puasa) dilakukan sejak empat hari sebelum Pangerupukan. Bentuk brata ini berupa berpuasa, baik berpuasa tidak makan selama kurun waktu tertentu maupun tidak berhubungan badan khususnya untuk pelaksana yang sudah menikah.

Setelah itu, pada hari Pangerupukan dilaksanakan tahapan inti tradisi yakni Lukat geni. Proses selanjutnya yaitu proses malukat secara umum (menggunakan air) di pancoran atau di laut. Pada proses ini tentunya didampingi oleh Pamangku Agung Puri Satria Kawan dengan membawa sarana yang diperlukan untuk proses pangelukatan ini.

Proses pangelukatan ini masih menggunakan sarana air seperti malukat pada umumnya. Kemudian dilanjutkan dengan melukat geni di sore hari menjelang sandikala. “Proses selanjutnya tepatnya setelah pengarakan Ogoh-ogoh selesai para warga puri akan berkumpul di Catus Pata untuk melaksanakan Lukat Geni,” terangnya. Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bali #balinese #adat #Pemuda Paksebali Saling Serang #hindu #pura #tradisi unik #bawa senjata Prakpak #Lukat Geni