Masyarakat di luar Banjar Buruan tidak boleh ikut melaksanakan prosesi mesbes bangke. Jika ketahuan, maka orang tersebut bisa saja dikeroyok oleh warga setempat yang sedang setengah sadar.
Banjar Adat Buruan, Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar masih melestarikan tradisi Mesbes Bangke (mencabik jenazah). Namun tidak semua jenazah bisa diperlakukan seperti itu.
Jika mendengar istilah Mesbes Bangke, tentu terdengar ekstrem. Tradisi ini bukanlah sebagai wujud rasa dendam kepada sosok yang telah terbujur kaku. Melainkan justru sebagai simbol kebersamaan bagi masyarakat Buruan.
Kelian Banjar Adat Buruan I Ketut Darta mengatakan bahwa dari 13 banjar adat yang berada di bawah naungan Desa Tampaksiring, hanya Banjar Buruan lah yang masih melestarikan tradisi Mesbes Bangke ini sampai sekarang.
Ia mengakui tidak ada catatan tertulis sejak kapan tradisi ini dilaksanakan. Namun seingatnya sudah dilakukan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Khususnya saat ada prosesi Ngaben secara personal saja.
Konon tradisi ini berawal dari penduduk asli Banjar Buruan yang tidak tahan dengan bau busuk yang dikeluarkan oleh mayat yang baru saja meninggal. Penduduk setempat pun kebingungan untuk menghilangkan bau mayat tersebut, karena zaman dahulu belum ada alat untuk mengawetkan jenazah, seperti formalin, es batu maupun lainnya.
Kemudian penduduk berusaha mencari cara agar mayat tersebut tidak mengeluarkan bau busuk. Setelah berpikir lama akhirnya memiliki ide untuk Mesbes (mencabik) jenazah tersebut.
Pada saat mencabik-cabik, mereka harus merasakan kegembiraan agar lupa akan bau yang ditimbulkan oleh jenazah tersebut. Menariknya, keluarga yang meninggal juga mengikhlaskan prosesi tersebut dilakukan. Tidak ada rasa marah, apalagi dendam bagi keluarga yang meninggal saat jenazah tersebut dikerumuni oleh masyarakat setempat.
Pada saat proses Mesbes Bangke ini dilakukan, penduduk yang akan ikut serta ini akan berkumpul di luar pekarangan rumah duka. Kemudian mayat yang digotong oleh sanak saudara dibawa keluar pekarangan secara spontan mayat tersebut akan diserbu oleh penduduk untuk dicabik-cabik.
Saat tradisi ini berlangsung, penduduk atau pencabik mayat yang akan dikremasi itu dalam keadaan setengah sadar atau kesurupan, tetapi ada pula yang masih dalam kondisi sadar. Sehingga ketika mereka mencabik-cabik mayat tersebut dengan tangan sambil naik ke atas mayat.
Mereka tidak akan merasa takut atau pun sebagainya karena mereka dalam keadaan tidak sadar dan dipenuhi dengan rasa kegembiraan. Prosesi diiringi dengan gambelan baleganjur dengan guyuran air yang membuat mereka menjadi tambah semangat. “Setelah warga lelah mencabik mayat, barulah jenazah atau mayat tersebut dibawa ke tempat upacara Ngaben atau dikremasi,” ungkapnya.
Di Banjar Buruan ini, ada tiga jenis pangabenan bagi orang yang telah meninggal, yaitu Ngaben langsung, penguburan mayat,dan Ngaben pribadi. Untuk tradisi Mesbes Bangke ini sendiri hanya digelar untuk Ngaben personal saja. “Jadi, tidak semua orang meninggal melalui proses tradisi Mesbes Bangke ini,” sebutnya.
Tradisi ini hanya boleh dilakukan oleh warga yang asli Banjar Adat Buruan. “Masyarakat di luar Banjar Buruan tidak boleh ikut melaksanakan prosesi Mesbes Bangke. Jika ketahuan, maka orang tersebut bisa saja dikeroyok oleh warga setempat yang sedang setengah sadar,” tutupnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya