Bendesa Adat Kerobokan Anak Agung Putu Sutarja mengatakan, Caru Panca Sata Madurga umumnya mirip dengan pacaruan biasa. Namun dalam pelaksanaannya menggunakan lima ayam, rerajahan Durga, nasi wong-wongan. Untuk pelaksanaannya akan dilakukan di pemangkal setra dan Pura Dalem Kerobokan.
“Tujuan upacara ini, intinya kalau caru itu sebagai nyomia Bhuta Kala supaya dibersihkan untuk menjadi dewa,” ujar Sutarja, belum lama ini.
Menurutnya, pelaksanaan upacara ini juga diharapkan dapat menolak bala. Pasalnya memasuki sasih kaenem hingga kasanga kerap muncul penyakit. Apalagi dalam sasih tersebut cuaca tidak menentu, terkadang hujan dan panas. “Itu sebagai bentuk penolakan bala karena sasih tersebut biasanya sasih becek yang sedang membawa wabah penyakit, baik sekala dan niskala. Apalagi saat ini biasanya cuacanya pancaroba,” ungkapnya.
Untuk prosesi upacara, Sutarja menerangkan, diawali dengan membersihkan diri dari jero mangku. Melalui maprasista dan mabiokaon, prosesi ini dilakukan di depan linggih Bhatari Durga. Setelah itu, barulah dimulai Caru Panca Sata Madurga dengan seluruh sarananya.
Lebih lanjut ia menambahkan, prosesi upacara ini akan diikuti masyarakat di 20 dari 52 banjar, yang merupakan panyungsung Pura Dalem Kerobokan. Sementara yang lainnya akan melaksanakan upacara serupa, namun dalam waktu dan tempat yang berbeda. Terlebih di Kerobokan ada 8 Pura Dalem dengan tradisi yang tersendiri.
“Pastinya semua terkait dengan caru pemangkal setra pasti di Pura Dalem dan memiliki setra pasti melaksanakan upacara itu, untuk di tilemnya itu hanya di Pura Dalem Kerobokan. Selain itu ada yang ngambil di sasih kaenem, Kawulu, atau Kesanga berbeda-beda tapi memiliki tujuan yang sama,” imbuhnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya