Saat tradisi Makenak-kenakan yang merupakan simbol persembahan, rasa suka cita, dan perwujudan sebagai ungkapan rasa syukur atas diberikan kelimpahan hasil bumi, dipentaskan juga Tari Dedari yang sangat disakralkan masyarakat setempat. Seperti apa tariannya?
Gerakan Tari Dedari sangat sederhana. Secara Struktur, tarian ini terdiri dari bagian awal (nambung), bagian tengah (aras-arasan), bagian akhir (nambung). Pada bagian awal menyimbolkan para Dedari turun dari kahyangan yang merupakan bhatara bhatari iringan Ida Batara, dengan posisi para penari tari Dedari berada di jeroan pura.
Prajuru Adat Penatahan, I Ketut Karmina mengatakan, bagian awal para penari Tari Dedari menghadap ke depan dan merentangkan kedua tangan. Selanjutnya berjejer nyerigsig keluar dari area jeroan pura dengan memegang selendang berwarna kuning, menuju ke area pementasan (area tengah).
Gerakan antara penari Tari Dedari yang satu dengan yang lainnya sama. Dilanjutkan dengan mengepak-ngepakkan kedua tangannya sambil bergerak mengelilingi sanggar penuntun dan gerakan nambung diulang-ulang.
Pada bagian tengah (arasarasan) menggambarkan para Dedari yang ingin ditangkap oleh orang-orang yang mengalami kadaut, karena dimasuki oleh roh suci yang diyakini berjenis kelamin laki-laki dari alam sana. Gerak aras-arasan dilakukan secara berpasangan antara penari satu dengan yang lainnya. Gerakan berjalan sambil memegang selendang dilakukan dengan posisi berhadapan.
Pada bagian ini gerakan tangan Tari Dedari, yaitu melakukan gerakan nambung dengan membentangkan kedua tangan kanan dan kiri dalam keadaan kedua tangan memegang selendang. Dengan mengulang-ulang gerakan nambung para penari membuat beberapa pola lintasan yang menggambarkan adanya interaksi antara penari Tari Dedari dengan penari yang mengalami kadaut, seperti penari Tari Majaranan, Patopengan, Malayangan, Ngulah Kedis, dan Joged.
Bagian akhir (nambung) menggambarkan para bidadari kembali ke kahyangan. Pada bagian ini para penari masih dalam keadaan menyebar. Para penari juga melakukan gerak berbaris menjadi satu melakukan gerakan seperti gerakan awal, yaitu melakukan gerakan nyeregseg dengan kedua tangan kanan, kiri memegang selendang.
“Mereka berjalan masuk menuju area jeroan pura, yang menggambarkan para bidadari kembali ke kahyangan. Pada bagian akhir para penari Tari Dedari tidak mengelilingi sanggar penuntun lagi, tetapi langsung keluar dari kalangan,” tutupnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya