Prajuru Desa Adat Batuyang Cokorda Aji Mangku menjelaskan, upacara Nyawang yang dilaksanakan di depan setra sering disebut sebagai pemujaan ke teben. Pertimbangannya, karena pelaksanaan upacara ini dilaksanakan di ujung selatan desa setempat.
“Ritual ini bertujuan untuk memohon kepada Dewi Durga yang berstana di Ulun Setra serta memohon kepada Dewa Bharuna yang berstana di laut, supaya Beliau melindungi masyarakat Desa Adat Batuyang dan terhindar dari berbagai penyakit,” katanya belum lama ini.
Lima belas hari setelah Nyawang, dilanjutkan dengan Melasti tepatnya pada purnamaning sasih kaenem. Tujuan dilaksanakan Melasti ke segara untuk menghaturkan pakelem berupa bebek belang kalung dan siap selem. Persembahan ini sebagai ucapan terima kasih ke hadapan Dewa yang berstana di segara, yaitu Dewa Bharuna. Bukan tanpa alasan, karena dalam kurun waktu 15 hari Dewa Bharuna sudah melindungi masyarakat Batuyang dan tidak menyebarkan penyakit yang datang dari lautan ke daratan.
Lima belas hari kemudian tepatnya pada Tilem kaenem nemu kajeng kliwon dilaksanakan upacara Dug-Dug Mong. Dalam upacara ini ini semua sesuhunan barong, rangda serta sesuhunan Pura Kahyangan Tiga tedun mengelilingi semua wilayah Desa Adat Batuyang.
Dug-Dug Mong merupakan upacara Bhuta Yadnya yang sudah menjadi tradisi untuk menghaturkan pacaruan serta panyamblehan ayam yang dilaksanakan di setiap perempatan dan pertigaan di seluruh jalan wilayah Desa Adat Batuyang.
Upacara ini bertujuan agar semua sesuhunan barong, rangda serta sesuhunan di Pura Kahyangan Tiga mengelilingi wilayah Desa Adat Batuyang macecingak (melihat) situasi dan memastikan seluruh masyarakat serta wilayah desa adat sudah aman dan sehat.
“Kalau memang keadaan sudah aman, maka pada Purnama kawulu, yang bertempat di perempatan agung di ujung kaja kangin Desa Adat Batuyang tepat pada waktu sandikala dan semua sesuhunan berupa barong, rangda dan betara betari Kahyangan Tiga ikut tedun,” paparnya.
Upacara Nyawang di tempat ini sering disebut sebagai pemujaan ke hulu. Dikatakan Cokorda Aji Mangku, upacara Nyawang dirangkaikan dengan sejumlah kegiatan. Diantaranya nedunang Ida Bhatara Ratu Sakti di Pura Penataran Agung. Namun sebelum itu, Ida Bhatara Ratu Sakti yang merupakan simbol dari barong dan rangda terlebih dulu dihiasi oleh pamangku Pura Penataran Agung. Selanjutnya menghaturkan upacara pasucian dan ayaban.
Barong yang terdapat di beberapa banjar berkumpul menjadi satu di depan Kori Agung Pura Penataran. Kemudian Ida Bhatara Ratu Sakti dan tapakan barong tersebut tedun menuju lokasi upacara Nyawang.
Tapakan barong, rangda terlebih dulu berkumpul di depan Kori Agung Pura Penataran untuk dihaturkan upacara Segehan Agung dengan memakai penyamblehan kucit butuan.
Setelah itu, Ida Bhatara Barong dan Rangda tedun beriringan menuju lokasi upacara Nyawang, yaitu ke ulun setra Desa Adat Batuyang (pemujaan ke teben) yang dilaksanakan pada Tilem sasih kalima.
Kemudian ke perempatan agung di Timur Laut Desa Adat Batuyang (pemujaan ke hulu), namun dilaksanakan pada purnamaning sasih kapitu.
Sampai di tempat pelaksanaaan upacara Nyawang (pemujaan ke teben) dilaksanakan upacara pacaruan siap brumbum dengan menghaturkan panyamblehan kucit Butuan, tapi sebelumnya diadakan tabuh rah sebagai rangkaian ritual dalam upacara ini.
Setelah itu, dilaksanakan upacara Nyawang dengan memuja Sang Hyang Surya, Dewi Durga, Dewa Baruna, Dewa Dewi Kahyangan Tiga, Sang Hyang Ibu Pertiwi, Sang Hyang Samudhaya dengan menghaturkan sesajen.
Demikian juga sebelum pelaksanaannya, terlebih dulu dilaksanakan upacara pacaruan panca warna. Pacaruan ini dengan menghaturkan penyamblehan, termasuk tabuh rah sebagai rangkaian ritual.
Upacara Nyawang menggunakan sejumlah sarana. Seperti banten pajati upasaksi katur ring Sang Hyang Surya yang terdiri dari daksina, peras, sodan rayunan, anaman bantal, canang bersian, dan canang sari.
Ada pula segehan agung seperti pengulapan, peras ajengan sesantun, basa basa, segan solas, pis bolong siuan, caru siap brumbun, suci segenep, tumpeng pitulas, pangulapan, panyeneng, tebasan, pasucian, rerantasan dan panyamblehan kucit butuan yang dipersembahkan ke hadapan Bhatara Durga.
Banten yang digunakan dalam upacara Nyawang pemujaan hulu dan teben terdiri dari beberapa bagian. Seperti suci segenep, tumpeng pitulas katur ring ajeng sesuhunan Kahyangan Tiga dan Sesuhunan Ratu Sakti, peras pajati katur ring ajang sesuhunan suwang-suwang banjar. “Suci segenep dan tumpeng pitulas katur ring Ida Batara Bharuna sebagai baten nyawang,” katanya. Editor : I Komang Gede Doktrinaya