Pamangku Pura Dalem Desa Adat Kelan, Jro Mangku Wayan Darmawan mengatakan, Ngaturang Idangan ditujukan kepada Ratu Gede Mas Mecaling dan dilaksanakan pada Tilem kaenem nampih sasih kapitu.
Sasih kalima sampai kapitu sebagai masanya wabah penyakit atau gering. Upacara ini tergolong Dewa Yadnya dan Bhuta Yadnya yang dilaksanakan sebagai wujud syukur dan ungkapan terima kasih umat Hindu Desa Adat Kelan kepada Ratu Gede Mas Mecaling karena telah memberikan waranugraha pada masa wabah penyakit tersebut.
“Ngaturang Idangan sebagai wujud rasa terima kasih krama Desa Adat Kelan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Ida Ratu Gede Sakti Mas Mecaling atas waranugraha yang diberikan oleh Beliau” katanya.
Inti dari upacara ini adalah memohon agar Desa Adat Kelan senantiasa diberikan keselamatan, kerahayuan serta dijauhkan dari hal yang tidak diinginkan.
Mangku Darmawan menceritakan, dilaksanakannya Ngaturang Idangan pada Tilem kaenem atau Tilem sasih kapitu karena pada sasih tersebut Ida Ratu Gede Mas Mecaling telah kembali ke parahyangan. Sebagai wujud syukur, maka krama menghaturkan suguhan-suguhan berupa nasi yang berisikan lauk pauk, sarwa buah, pala bungkah pala gantung.
Sebelum ngaturang itu, terlebih dulu diawali dengan upacara penyanggra. Upacara ini dilaksanakan untuk menyambut kehadiran Ida Ratu Mas Mecaling. Krama meyakini bahwa Ida Ratu Mas Mecaling datang bersama pasukan ke Desa Adat Kelan pada sasih kalima.
Kehadiran itu lah yang disambut oleh krama bertempat di Pura Dalem Kahyangan dan Penataran Desa Adat Kelan dengan dilaksanakannya upacara penyanggra. Ratu Gede Mas Mecaling yang dipercaya mulai sasih kalima dan kaenem turun ke desa-desa bersama bala wadrang rencang.
Ratu Gede Mas Mecaling turun melalui segara dengan perahu besar bersama pasukan. Ini lah yang krama desa sambut atau sanggra yang dilaksanakan di Pura Dalem Kahyangan dan Penataran Desa Adat Kelan pada nemoning kajeng kliwon sasih kalima.
“Kami meyakini Ratu Mas Mecaling yang akan memberikan anugerah kepada warga desa dikarenakan adanya merana yang disebabkan oleh pengaruh sasih. Maka dari itu masyarakat Desa Adat Kelan percaya bahwa kehadiran Beliau yang masyarakat sanggra pada kajeng kliwon sasih kalima di Pura Dalem Kahyangan lan Penataran Desa Adat Kelan, akan menetralisir merana (penyakit) yang ada dikarenakan pengaruh sasih,” bebernya.
Setelah dilaksanakannya upacara penyanggra, dilanjutkan dengan melancaran pada kajeng kliwon sasih kalima nampih kaenem. Upacara Malancaran dilaksanakan oleh krama dengan mengusung palawatan pawayang-wayangan Ida Bhatara menuju ke pertigaan dan perempatan, serta ke beberapa batas-batas desa dengan diiringi instrumen gambelan baleganjur
Pada kajeng kliwon sasih kaenem dihaturkan untuk nyatur desa ke pertigaan dan perempatan desa. Ritual tersebut dilaksanakan mengiringi Ida Bhatara untuk melihat-lihat wilayah Desa Adat Kelan dan memohon agar ngemit di desa setempat.
Setelah dilakukannya prosesi melancaran, selanjutnya palawatan pawayang-wayangan Ida Bhatara diantar kembali menuju ke Pura Desa dan Puseh, yang ditandai dengan napak caru, tepatnya di madya mandala pura.
Kemudian palawatan pawayang-wayangan Ida Bhatara kalinggihang di pererepan dan Ida Bhatara nyejer selama 15 hari (akajeng kliwon). “Pada hari ke-15 akan dilaksanakan prosesi mepajar atau napak pertiwi sebagai simbol (cihna) bahwa Ida Bhatara secara niskala sudah menghilangkan atau membersihkan segala penyakit yang ada di Desa Adat Kelan,” kata Jro Mangku Wayan Darmawan.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya