Saat mapeed ini, krama menggunakan pakaian warna-warni, merah, kuning, hitam, putih, poleng dan berjalan berpasangan lelaki dan perempuan. Sementara di pundak maupun di kepala mereka memikul dan menjinjing aneka buah, biji-bijian, maupun umbi-umbian serta hasil bumi lainnya. Juga ada iringan tebu, kober, pratima, barong landung, rangda, hingga gayot.
Yajamana Karya, Ida Pedanda Gede Made Gelgel mengatakan, karya ini mengambil tingkatan utama atau Karya Agung. Sementara untuk Nyenuk merupakan sebuah prosesi yang dalam bahasa Indonesia berarti menengok.
Dikatakan Ida Pedanda, dalam Nyenuk ini memakai catur wara, perwakilan segala golongan seperti catur warna, catur wangsa, maupun soroh. Prosesi Nyenuk digelar ke pura yang tak melaksanakan karya seperti Pura Puseh, Pura Desa maupun Pura Masceti. “Intinya upacara atau karya agung ini untuk keharmonisan bhuana agung dan bhuana alit,” katanya.
Sementara itu, Panitia Karya Jero Mangku Ketut Sudiarta mengatakan tujuan Nyenuk ini melengkapi rangkaian karya yang digelar di Pura Dalem Manik Penataran Agung.
Selain pratima yang dibawa, juga aneka hasil bumi seperti pala bungkah, pala gantung, palawija, pala rambat. Ia menambahkan, rangkaian karya diawali dengan matur piuning karya yang telah dilaksanakan pada 21 Maret lalu. Dilanjutkan dengan berbagai rangkaian seperti Negteg Beras, Ngingsah dan Tawur. Saat Buda Umanis Wuku Dukut dilaksanakan Puncak Karya.
Setelah puncak karya, Ida Bhatara akan nyejer hingga tanggal 17 Mei mendatang untuk selanjutnya Nyineb dilaksanakan pada tanggal 18 Mei. Yang dilanjutkan dengan Napak Pertiwi dengan sesolahan Calonarang.
“Dengan pelaksanaan karya ini semoga Ida Sesuhunan yang berstana di Pura Dalem Manik Penataran Agung, Pura Dalem Kahyangan dan Pura Taman Beji Lumintang memberikan berkah kerahayuan kerahajengan kepada krama semua,” tandasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya