Hari suci ini diyakini sebagai hari turunnya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Sang Hyang Pasupati, yaitu dewa yang berkuasa atas segala jenis senjata atau alat-alat yang terbuat dari logam.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Buleleng, Nyoman Suardika mengatakan, kata Landep berarti ketajaman, sehingga dimaknai sebagai momentum untuk memeringati segala hal yang tajam dan runcing.
“Makna secara filosofis dari arti tajam adalah pikiran. Atau Landeping idep. Sehingga yang dipertajam adalah pemahaman, wawasan dan pengetahuan agar tetap diasah dengan belajar,”
Dalam implementasinya, umat Hindu di Bali merayakan Tumpek Landep dengan membuatkan upacara untuk berbagai macam pusaka warisan para leluhur yang dikeramatkan. Seperti keris,tumbak, pisau, sabit, dan senjata lainnya.
Upacara itu dihaturkan kepada Sang Hyang Pasupati sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Kuasa yang menguasai semua senjata atau peralatan agar semua peralatan itu bertuah.
Tak hanya beragam jenis senjata, perayaan Tumpek Landep tak dipungkiri mengalami pergeseran terhadap alat-alat yang terbuat dari logam. Seperti alat elektronik, kendaraan, perabot rumah tangga, yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Editor : Nyoman Suarna