Kerajinan songket, perak dan emas masih menjadi ceruk ekonomi bagi sejumlah warga di Desa Beratan Samayaji, Kecamatan/Kabupaten Buleleng. Tenun songket khas desa ini sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Kemendikbud sejak 2020 lalu.
KERAJINAN tenun songket maupun perajin emas dan perak di desa ini tidak lepas dari konsep Agaluh Agandring yaitu pada saat berdirinya Desa Beratan pada abad ke-14. Agaluh adalah sosok perempuan dalam keluarga yang berprofesi sebagai perajin kain tenun songket, sedangkan Agandring artinya sosok laki-laki atau kepala keluarga yang berprofesi sebagai perajin emas dan perak.
Perajin di Desa Beratan Samayaji telah turun-temurun mewarisi budaya tenun songket dan perak tersebut. Adapun yang membedakan kerajinan di desa ini dengan daerah lainnya yaitu dari segi motif. Motif yang digunakan pada kerajinan songket dan perak terutama bokor slaka itu sama, yaitu motif seet mingmang yang telah diwariskan turun-temurun oleh leluhur masyarakat desa setempat.
Konon, perajin meyakini jika motif ini mempunyai filosofi yang sangat bertuah, yaitu sebuah lilitan yang tidak ada ujung pangkalnya yang mampu memberikan potensi energi positif terhadap isi rumah dan lingkungannya, sehingga itu dijadikan sebagai sebuah konsep lama untuk menjaga diri terutama di tempat memproduksi kerajinan. Akan tetapi di dalam kerajinan songket motifnya lebih bervariasi yaitu terdapat motif lama dan motif baru.
Motif lama merupakan motif yang sudah diturunkan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Motif lama terdiri dari empat yaitu seet mingmang, tambalan, patra sari dan patra punggel. Sedangkan motif baru meliputi motif suna cekuh, motif bulan, motif kedis, tapuk manggis dan motif merak.
Menurut penuturan dari salah satu artisan (desainer) yang menggambar motif baru kerajinan songket Desa Beratan Samayaji, Kadek Resmini, motif baru tersebut terinspirasi karena adanya permintaan dari pelanggan, namun tidak meninggalkan ciri khas dari motif yang sudah ada sejak dahulu.
Ia sangat cekatan dalam menggunakan alat tenun sampai dengan menghitung jumlah bedumas yang ada di kerajinan songket. Bedumas merupakan suatu benang yang nantinya akan menjadi motif yang muncul di permukaan kain.
“Saya mendesain ulang permintaan dari pelanggan dengan cara memodifikasi kembali serta menciptakan keinginan pelanggan tetapi masih berpatokan pada motif lama yang sudah ada,” ujarnya.
Tokoh desa setempat, I Made Ngurah Wedana menyebutkan kalau kain songket biasanya digunakan pada saat pelaksanaan yadnya terutama pada saat Manusia Yadnya dan Dewa Yadnya. Para perajin kain songket di desa ini masih menggunakan cara tradisional untuk memproduksi kain songket.
Selain untuk mempertahankan pakem yang sudah ada, hal tersebut juga dilakukan untuk mempertahankan kualitas dari kain songket khas desanya.
Adapun harga jual dari kerajinan kain songket buatan kisaran Rp 3-4 juta, bahkan bisa lebih. Itu tergantung tingkat kerumitannya. Sedangkan untuk proses pembuatannya bervariasi, tergantung kerumitan motif serta ukurannya.
Misalnya saja untuk pembuatan kamen bisa sampai 1 bulan. “Prosesnya cukup lama, mulai dari nyelup atau mewarnai, nganyinin, ngeliying, nuduk atau mendesain, gulung dipandanan dan yang terakhir baru melakukan proses penenunan dengan alat tenun cagcag,” jelasnya.
Selain eksis karena masih digunakan sebagai sarana untuk yadnya, Ngurah Wedana juga membuat terobosan baru untuk mengembangkan kerajinan songket bahkan sampai ke mancanegara. Ia merealisasikan hal tersebut dengan membuat pigura atau lukisan yang ditempeli dengan beberapa kain songket, sehingga menghasilkan karya seni yang artistik.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya