“Kepercayaan masyarakat bahwa tarian ini diyakini sebagai tarian pengusir hama pertanian, sehingga diharapkan dengan dipentaskannya Tari Mongah akan terjadi hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan, khususnya di Desa Bunutin.” Jero Bau Kasih, Pamangku Desa Adat Bunutin
BANGLI, BALI EXPRESS -Desa Adat Bunutin, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli setiap dua tahun sekali, tepatnya pada Sasih Kasa menggelar upacara Pangwangan. Dalam ritual ini juga dirangkaikan dengan pementasan Tari Mongah yang menggunakan kostum daun-daunan.
Masyarakat setempat meyakini mongah berasal dari kata pongah yang memiliki arti tidak ada rasa malu untuk meminta lebih. Artinya dalam hal ini masyarakat dalam melaksanakan suatu ritual adalah mengungkapan rasa syukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas segala anugrah yang diberikan.
Tari Mongah dipentaskan setiap dua tahun bertepatan pada Sasih Kapat. Pada saat dilaksanakan upacara Pangwangan. Upacara Pangwangan merupakan ritual yang dilakukan untuk mengurangi atau memperkecil hal-hal yang negatif yang diwujudkan berupa bhuta kala-bhuta kali seperti hama dan penyakit (merana) yang mengganggu dan merusak tanaman pertanian masyarakat.
Tari Mongah merupakan tarian sakral sebagai simbol pembasmi berbagai jenis hama seperti wereng, walang sangit, tikus, dan lainnya yang sering menyerang tanaman petani. Tari Mongah ditarikan dengan tujuan mengusir. Tarian ini dipentaskan di Pura Bale Agung.
Jero Bau Kasih, pamangku Desa Adat Bunutin menjelaskan, menurut mitos, Tari Mongah sebagai manifestasi Tri Murti (Brahma, Wisnu, dan Çiwa) yang perwujudan menyerupai Sang Hyang Bhuta Kala-Bhuta Kali. Dikatakan sebagai manifestasi Tri Murti dapat dilacak dari pola tata rias (mapoles) yang digunakan, yakni penuh makna simbolis.
Seperti penggunaan kapur warna putih (pamor) sebagai simbol Ida Bhatara Siwa atau Ida Bhatara Dalem yang berstana di Pura Dalem, penggunaan adeng atau mangsi warna hitam sebagai simbol Ida Bhatara Wisnu yang berstana di Pura Puseh.
Sedangkan penggunaan gendolo atau kesumba berwarna merah sebagai simbol Ida Bhatara Brahma yang berstana di Pura Desa. Dalam pementasan Tari Mongah biasanya penari berasal dari anggota sekaa teruna yang berjumlah 11 orang.
Tarian ini tidak boleh dibawakan oleh orang yang telah menikah. “Kepercayaan masyarakat bahwa tarian ini diyakini sebagai tarian pengusir hama pertanian, sehingga diharapkan dengan dipentaskannya Tari Mongah akan terjadi hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan khususnya di Desa Bunutin,” jelas Jero Bau Kasih.
Krama Bunutin meyakini, Pangwangan dianggap mendatangkan berkah khususnya bagi para petani. Oleh karena itu, menjadi kewajiban masyarakat untuk melaksanakan upacara ini sebagai upacara tolak bala. “Sebagian besar penduduk di Bunutin itu bekerja di sektor pertanian,” kata pria yang memiliki nama asli Wayan Cukup ini.
Ia menjelaskan, Tari Mongah sudah ada pada periode pra-Hindu. Pada zaman ini tarian-tarian yang berkembang di masyarakat menirukan gerakan-gerakan alam sekitarnya seperti alunan ombak, pohon ditiup angin, gerak-gerak binatang dan lain sebagainya.
Tari Mongah banyak dipengaruhi oleh keadaan alam sekitarnya. Dari segi bentuk kostum dan tata riasnya Tari Mongah memanfaatkan hal-hal yang ada di sekitarnya seperti tanaman bun (sejenis tumbuhan merambat), daun pakis, rumput ilalang dan daun pisang kering (kraras).
Tanaman tersebut banyak tumbuh di sekitar lingkungan Desa Bunutin pada zaman dahulu. Selain kostum, dari segi tata riasnya yang berpoles tiga warna yaitu merah, putih, dan hitam juga memanfaatkan tanaman yang mudah didapat di lingkungan sekitar seperti warna merah menggunakan buah gendolo yang mudah didapatkan pada zaman dahulu.
Penari bergerak bebas mengikuti iringan musik gamelan. Pada saat pertunjukan penari tidak sadarkan diri karena dipengaruhi oleh roh-roh halus atau ada unsur trance (kerauhan). “Tari Mongah dipercaya oleh masyarakat sebagai tarian penolak bala yang perwujudannya menyerupai Sang Hyang Bhuta Kala-Bhuta Kali,” ungkapnya.