BANGLI, BALI EXPRESS- Desa Adat Sekardadi, Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali masih melestarikan tradisi Memenjor. Tradisi ini juga disebut dengan Ngusaba Bantal, yang dirayakan 1 tahun sekali oleh umat Hindu di desa setempat.
Upacara Memenjor dilaksanakan di Pura Dalem, Desa Sekardadi. Pada saat Ngusaba Bantal, krama Hindu di desa itu membuat jajan bantal untuk sarana upacara, karena tidak boleh memakai jajan yang digoreng. Tradisi inipun sudah dijalankan secara turun-temurun.
Bendesa Adat Sekardadi I Nengah Madria mengatakan, pada momen Ngusaba Bantal, krama Desa Adat Sekardadi juga membuat penjor dan cambeng. Bambu yang digunakan tidak boleh sembarangan. Ada bambu khusus yang dipakai saat upacara di Pura Dalem, krama desa menyebutnya dengan Bambu Talidami.
Uniknya, Penjor yang sudah dilobangi diisi dengan tuak atau air gula jaka. Tuak ini nantinya akan dituangkan pada cambeng yang sudah tertata rapi. Sebelum acara Memenjor, terlebih dahulu krama desa memotong sekor sapi jantan, dan kepala sapi diletakkan di tempat yang sudah di sediakan.
“Tradisi Memenjor sudah ada dari dulu dan masih tetep jadi tradisi turun-temurun sampai sekarang. Pada saat kami sembahyang ke Pura Dalem dilarang memakai perhiasan emas maupun perak,” paparnya.
Bukan tanpa alasan, mengapa dilarang menggunakan perhiasan. Pasalnya mereka meyakini setiap manusia yang lahir ke dunia tidak memakai apa-apa lias malalung. Pada saat sembahyang pun, krama Hindu di Sekardadi tidak memakai sarana bunga, dan pada saat Memenjor dilarang memakai alas kaki.
“Ini menjadi keyakinan kami untuk melestarikan tradisi ini. Sehingga dijalankan secara turun-temurun. Selain itu kami juga ada banyak tradisi yang dilaksanakan. Seperti Tradisi Nyacahin, Neduh, Mungkah, dan masih banyak lagi tradisi yang lain,” tutupnya. (*)
Editor : I Made Mertawan