Kain Gotia menjadi salah satu kain yang diproduksi perajin tenun ikat tradisional di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem. Kain ini sarat akan makna secara filosofis sebagai symbol keseimbangan. Sedangkan kain ini juga digunakan pada acara-acara ritual penting di Tenganan. Tenganan sendiri merupakan salah satu desa yang memiliki banyak tradisi unik.
Seperti diketahui, Desa Adat Tenganan Pegringsingan tidak hanya dikenal dengan rumah adat, tradisi mekare-kare dan ragam ritual yang sangat khas. Namun juga dikenal sebagai perajin kain tenun ikat yang khas dan bernilai ekonomis tinggi.
Dari beberapa kain tenun yang dihasilkan oleh masyarakat di Desa Adat Tenganan Pegringsingan kain tersebut digunakan untuk keperluan upacara adat, baik sebagai busana ataupun sebagai pelengkap upakara. Kain tenun tradisional di Desa Tenganan memiliki perbedaan mulai dari material, motif, fungsi hingga makna.
Sebut saja kain Gedogan, kain Gotia, kain Celagi manis, kain Idup Panak dan lainnya. Uniknya, Setiap kain tradisional di Desa Tenganan memiliki perbedaan mulai dari material, motif, fungsi hingga makna.
Kelian Adat Tenganan Pegringsingan, Putu Yudiana mengatakan Kain Tenun gotya tergolong Kain Bebali (Kain Bali). Sebagai kain sakral yang sangat sederhana baik dalam penampilan maupun pembuatannya.
“Kain Gotia juga wajib digunakan setiap pelaksaan upacara di Desa Adat Tenganan oleh Teruna, Daha dan Desa digunakan untuk saput, anteng/ selendang dan juga kalung,” kata Yudiana.
Dalam proses penggunaannya kain gotia harus menyatukan dua lembar kain gotia. Kain tenun gotia diciptakan ratusan tahun oleh warga desa sejak dahulu. Namun, hingga saat ini tidak ada catatan tertulis secara resmi mengenai asal mula tenun gotia di desa Tenganan Pegringsingan,
Kain tenun Gotia ditenun dengan menggunakan alat tenun tradisional Tenganan, yaitu Cag-cag. Teknik dalam pembuatan kain yang dibuat dengan prinsip yang sederhana. Kain tenun Gotya dibuat dengan menggunakan benang Bali.
Prinsip keseimbangan sangat diperhatikan dalam proses pembuatan kain tenun gotya. Keseimbangan dapat dilihat dalam kain tenun gotia mulai dari penyusunan warna, penyusunan motif.
Penggunaan bahan sehingga terbentuk nya suatu tekstur. penerapan prinsip keseimbangan dalam kain tenun gotia bertujuan agar kain tenun gotia dapat enak dilihat, bersifat tenang, tidak berat sebelah.
“Kain tenun gotia dibuat dengan benang bali berupa kapas yang digiling mengecil sehingga menjadi sebuah benang panjang dan di direndam dengan bubur nasi. Alat tenun yang digunakan berupa cag cag dengan tehnik meserat,” sebutnya.
Kain Gotya memiliki desain dengan motif persegi empat dan persegi panjang yang timbul akibat penggabungan antara garis berwarna hitam dengan arah horizontal dan vertikal dengan struktur garis 2.1.2.1 dan motif persegi empat dan persegi panjang berwarna putih.
Penggunaan kain tenun Gotia oleh teruna dan Daha digunakan dalam upacara metruna nyoman sebagai saput dan kalung. Sedangkan untuk pria dewasa umumnya digunakan setiap ngayah dalam suatu rentetan upacara yang digunakan untuk senteng.
Pun juga untuk kaum ibu rumah tangga, biasanya dikenakan seluruh busana dalam upacara mendak tirta dan proses pembuatan bubur dalam rentetan upacara. Hal ini dikarenakan kepercayaan terhadap simbol dan makna yang terdapat pada motif dan warna Kain Gotia tersebut.
Selama ini, konsep Kain Gotia sebagai kain bebali memiliki kualitas, nilai estetika dan makna khusus di dalamnya. Jika dilihat lebih seksama dari segi warna dan motifnya, kain tenun Gotya diyakini sebagai keseimbangan alam (rwa bhneda), jaga satru (benteng pertahanan).