Tari Baris Jangkang Pelilit di Desa Adat Pelilit, Kecamata Nusa Penida, Klungkung, Bali, menjadi tarian sakral yang terlahir dari kemenangan yang diperoleh oleh Desa Pelilit melawan Desa Watas dan Desa Tanglad dalam sebuah perang perebutan wilayah kekuasaan yang terjadi di Desa Pelilit. Tarian ini memiliki sejarah panjang hingga akhirnya rutin dipentaskan sebagai tari Wali, salah satu jenis Tari Bali.
Sejarah Baris Jangkang diceritakan secara turun temurun. Konon pada zaman kerajaan Klungkung ada seseorang yang berasal dari Dusun Pelilit Nusa Penida yang dianggap sakti bernama I Jero Kulit. Kesaktiannya terbukti mampu membuat tirtha dengan memanah batu.
Suatu hari I Jero Kulit mencoba memukul tempat makanan babi (gong) tersebut, ternyata setelah dipukul mengeluarkan suara yang dahsyat. Saat itu pula I Jero Kulit berkeinginan untuk memiliki gong tersebut, tetapi dia harus meminta izin terlebih dahulu kepada sang raja sambil menceritakan apa yang telah dialaminya. Akan tetapi raja tidak mempercayai cerita dari I Jero Kulit.
Pada suatu hari anak raja mengalami kelumpuhan tanpa diketahui penyebabnya, kemudian I Jero Kulit membunyikan tempat makanan babi (gong) tersebut dan saat itu pula anak raja bangun dan langsung sembuh dari penyakit yang dideritanya.
I Jero Kulit meminta agar raja mengizinkan gong itu dibawa ke Pelilit untuk menyembuhkan masyarakat yang saat itu sedang terkena wabah penyakit. Raja merasa berhutang budi kepada I Jero Kulit, sehingga beliau mengizinkan gong itu dibawa dengan syarat I Jero Kulit harus menciptakan sebuah tarian.
Kemudian I Jero Kulit pun menerima persyaratan tersebut dan segera membawa gong tersebut pulang. Hampir sebagian besar masyarakat yang terserang wabah penyakit bisa disembuhkan dengan memukul gong tersebut. Pada suatu hari gong tersebut dibawa ke kebun (jurang kumut) di wilayah Pelilit oleh I Jero Kulit dengan maksud digunakan untuk tempat makan babi peliharaannya.
Pada saat yang bersamaan Kelian Banjar Desa Adat Pelilit mengetok kentongan (kulkul) yang ada di Bale Banjar karena wilayah Desa Pelilit diserang oleh musuh dari Desa Tanglad dan Desa Watas Perang pun berlangsung sangat hebat.
Masyarakat dari Desa Pelilit berperang layaknya seorang pasukan prajurit yang berani mati guna membela tanah kelahirannya, karena semakin sengitnya perang yang terjadi maka I Jero Kulit segera membunyikan gong tersebut untuk menghentikan peperangan.
Dahsyatnya suara yang dikeluarkan mampu mendatangkan angin yang kencang dan membuat tanaman ilalang bergerak seperti senjata. Melihat hal tersebut musuh pun merasa ketakutan dan berlari terjengkang – jengkang karena mengira tanaman ilalang tersebut adalah senjata yang mampu bergerak sendiri.
Melihat perang yang baru saja terjadi, maka I Jero Kulit terpikir untuk menciptakan sebuah tarian yang menggambarkan tokoh keprajuritan. Sehingga terbentuklah sebuah tarian yang diberi nama tari Baris Jangkang.
Bendesa Adat Pelilit, I Wayan Satu Antara menjelaskan sebagai tarian sakral Baris Jangkang dipentaskan setiap ada pujawali di Pura Desa, Pura Dalem, Pura Puseh maupun pura-pura lain yang disungsung oleh Desa Adat Pelilit.
“Tari baris merupakan simbol widyadara, apsara sebagai pengawal Ida Batara sesuunan turun ke dunia pada saat upacara piodalan (odalan) di pura bersangkutan dan befungsi sebagai pemendak (penyambut) kedatangan beliau,” kata Wayan Satu.
Pada upacara ini tari baris biasanya disertai tari rejang yang ditarikan oleh beberapa dara manis sebagai simbul widyadari, apsari yang memberikan keindahan suasana turunnya Ida Betara Sesuunan.
Selain untuk upacara Dewa Yadnya, Tari Baris Jangkang juga digunakan sebagai pengiring upacara Pitra Yadnya. Tarian ini sebagai simbol para widyadara menjemput roh (atma) orang yang meninggal untuk diajak menuju tempat yang abadi.
Selain dipentaskan di pura (tempat suci), tari baris Jangkang juga dapat dipentaskan di lingkungan rumah tangga ketika melaksanakan upacara manusa yadnya (upacara daur hidup). Pementasan di lingkungan rumah tangga biasanya dipentaskan untuk naur sesangi (membayar kaul). Secara rutin tari ini dipentaskan pada saat upacara di Pura Desa
“Bahkan, Tari Baris juga diyakini bisa menyembuhkan orang sakit, mengabulkan permintaan agar mempunyai keturunan atau bayar kaul dan diyakini berfungsi untuk Melindungi Desa dari berbagai ancaman,” paparnya.
Editor : I Putu Suyatra