SINGARAJA, BALI EXPRESS - Pura Pemuteran salah satu pura pesanakan di Pura Pulaki, Buleleng, Bali. Letaknya paling barat. Pura ini juga dekat denna pura Bukit Batu Kursi. Di Pura Pemuteran ada empat tirta ajaib (tirta; adalah air suci bagi umat Hindu, Red). Ada empat sumber mata air yang ada di areal pura. Sumber-sumber mata air itu masing-masing memiliki fungsi.
Sumber air pertama ditandai dengan kain putih. Selanjutnya disebut dengan tirta putih. Airnya tidak berbau dan memiliki suhu hangat. Terkadang suhu airnya dingin. Tirta ini biasanya akan dimohon oleh krama untuk kelancaran bersalin. Air dari sumber mata air ini dipercaya memiliki kekuatan untuk menetralisir gangguan roh jahat saat melahirkan.
“Itu dipercikkan kapada itu hamil. Kalau dulu kan susah orang cari dokter. Jadi masyarakat memohon kelancaran dengan tirta ini,” terang Klian Desa Pakraman Pemuteran, Jro Ketut Wirdika.
Baca Juga: Rapalkan Mantra Ini untuk Mohon Keturunan
Di sebelahnya, terdapat sumber mata air dengan tanda kain merah. Selanjutnya air dari sumber itu disebut tirta merah, airnya berbau belerang. Biasanya krama akan memohon tirta ini untuk menetralisir halaman rumah. Seperti misalnya pekarangan rumah yang angker, pamali, atau dihuni makhluk gaib.
“Ini juga dipercikkan. Ini dulu digunakan sebagai pengganti caru. Dulu orang susah untuk buat caru, jadi pakai tirta ini,” tambahnya.
Kemudian sumber mata air ketiga adalah tirta kuning. Airnya berbau belerang lebih menyengat. Tirta kuning lebih banyak dimohon untuk pengobatan. Seperti halnya sakit kulit.
“Kudis, kurap, koreng dan lainnya,” singkatnya.
Terakhir adalah tirta hitam. Tirta ini banyak dimohon untuk menangkal dan mengobati sakit akibet black magic atau ileum hitam.
“Kalau sakit itu, tirta ini dipercikkan, maka dipercaya ilmu hitam yang mengganggu akan luntur,” kata dia.
Sementara, bila memohon untuk kelancaran usaha, keempat tirta itu dicampur. Kemudian tirta yang telah dicampur itudipercikkan ke toko atau keseluruhan tempat usaha. Sedangkan untuk memohon keturunan yang dimohon adalah tirta putih dan merah. Keduanya dicampr lala ditunas.
“Itu masuk ke permintaan khusus. Dan untuk memohon keturunan sarananya pejati, peras, tumpeng merah, tumpeng putih, telur bebek dipotong jadi dua, tunjung merah. Telur bebek itu nanti dimakan oleh pasangan suami istri secara silang. Astungkara suda ada yang punya anak,” tutupnya.
Editor : I Putu Suyatra