BALI EXPRESS- Desa Adat Bayunggede, Kecamatan Kintamani, Bangli tidak hanya dikenal dengan tradisi Ari-ari megantung. Masyarakat Hindu di Desa Bayunggede juga masih menjalankan ritual Ngusaba Yeh yang diyakini sebagai bentuk permohonan kesuburan tanah.
Bendesa Adat Bayunggede, Jro Ketut Sukarta menjelaskan Ngusaba Yeh memiliki prosesi yang panjang dan bertahap. Seluruh sarana yang digunakan dalam ritual Ngusaba Yeh ini diperoleh dari Desa Adat Bayunggede.
Baca Juga: Lagi-Lagi, Bule Rusia Bikin Onar di Bali, Imigrasi Tindak Tegas
Rangkaian upacara Ngusaba Yeh ini biasanya dirangkaikan dengan upacara Ngusaba Mosa dan 16 ngusaba lainnya yang dilaksanakan di Desa Bayung Gede yang tujuannya sangat identik dengan pelestarian alam.
Rangkaian pertama yakni disebut dengan upacara Mangkon bertepatan dengan bulan Mei. Upacara ini diadakan di Pura Bale Agung Desa Bayunggede. Rangkaian upacara berikutnya adalah Neleb, yakni upacara mempersiapkan lahan persemaian atau benih. Upacara ini dilaksanakan di persawahan.
Rangkaian selanjutnya adalah disebut dengan Miyik Benih, yakni prosesi upacara untuk benih padi yang akan disemai dan sampai tumbuh dan siap untuk ditanam. “Prosesi ini dilakukan di areal persawahan Desa Adat Bayunggede,” jelas Sukarta.
Rangkaian upacara selanjutnya adalah Ngembak atau dengan kata lain memula atau menanam bibit padi yang sudah waktunya untuk ditanam. Pada saat ini dibuatkan pula prosesi upacara sederhana bertempat di persawahan penduduk.
Baca Juga: Antisipasi Rabies, Ratusan HPR di Benbiu Disuntik Vaksin
Rangkaian berikutnya adalah Bebungkilan yakni prosesi upacara padi masih berumur muda antara satu bulan sampai dua bulan. Selanjutnya adalah upacara Neduh, yakni prosesi upacara setelah tanaman padi berusia tiga bulan. Prosesi ini sama seperti prosesi sebelumnya adalah dilakukan di areal persawahan memuja Dewi Sri agar berkenan memberikan berkah tumbuhan padi hidup dengan baik.
Rangkaian selanjutnya, yaitu Kembang Jaja. Prosesi ini merupakan prosesi sangat sederhana yang dilakukan oleh masyarakat Desa Pakraman Bayung Gede dengan tujuan agar padi dapat berbuah dengan baik.
Baca Juga: Didukung BRI, Indonesia Cup Testers Championship Hasilkan Juara Dunia
Kemudian dilanjutkan dengan Ngusabha Dalem yang dilaksanakan di Pura Dalem dengan maksud agar hama yang menganggu dapat diatasi. Prosesi dilanjutkan dengan Ngusaba Kapat yang bertepatan dengan sasih Kapat.
“Prosesi upacara ini bertujuan untuk memohon agar cuaca tidak menyebabkan terjadinya hasil panen yang buruk, sebab cuaca sangat menentukan sekali pengaruh dari panen padi tersebut,” kata Sukarta.
Puncaknya adalah Ngusaba Yeh. Pada saat inilah prosesi upacara pemujaan terhadap air yang dipersonifikasikan sebagai Dewa dan Dewi kesuburan (Dewa Wisnu dan Dewi Sri) dilakukan menggunakan sarana dan prasarana sederhana untuk memohon kesejahteraan.
Upacara selanjutnya adalah Nilem, yaitu prosesi upacara sebagai ucapan rasa syukur sebab air yang berkecukupan dan hama serta cuaca tidak mengganggu mengakibatkan tumbuhan padi tumbuh dengan baik. Dilanjutkan dengan upacara Nyaga, yakni upacara yang dilakukan di areal sawah dengan maksud untuk menjaga padi dengan baik agar hasil panennya meningkat dengan baik.
Baca Juga: Aroma Balas Dendam di Balik Kemenangan PSS Sleman atas Bali United
Selanjutnya adalah upacara Mosa. Upacara Yadnya Mosa adalah suatu korban suci termasuk pada Bhuta Yadnya dalam Panca Yadnya dalam perhitungan Bali yang disebut sasih Kanem atau bulan Pausya yang tujuannya adalah untuk menjaga keseimbangan kosmis.
Selanjutnya adalah Kesanga merupakan prosesi upacara dengan tujuan untuk menetralisir kekuatan negatif, sehingga mencapai keharmonisan alam makro dan mikro. Berikutnya adalah Kadasa, yakni prosesi upacara yang dilakukan pada sasih kadasa, yaitu prosesi upacara akan menjelang tanaman padi dipanen.
“Rangkaian terakhir adalah upacara Pantun Padi, yaitu upacara memanen padi sebagai ucapan rasa syukur kepada Dewa-Dewi karena Beliau berkenan memberikan kesejahteraan, sehingga hasil panen berhasil dengan baik,” ungkapnya. (*)